(Makalah Ilmu Kalam) Tokoh Ajaran Syi’ah

TOKOH DAN AJARAN SYI’AH

Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Tugas

Dalam Mata Kuliah Ilmu Kalam

Dosen Pengampu:

Gusnam Haris, SHI.

logo-uin-suka-baru-warna

Disusun Oleh Kelompok 2 MU-C:

1. Zahid Sapto Nugroho                               123xxx

2. Hanung Latifahtul F                                 123xxx

3. Ma’ruf Hidayat                                         123xxx

4. Nida’ul Hasanah                                        123xxx

5. Rahmayani Nashihatun A                        123xxx

 

JURUSAN MUAMALAT FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UNIVERSITAS UIN SUNAN KALIJAGA

YOGYAKARTA

2012

KATA PENGANTAR

Alhamdulillahirobbil’alamin,  segala  puji  dan  syukur  selalu  penyusun panjatkan ke hadirat Illahi Robbi yang telah melimpahkan rahmat dan hidayahNya sehingga penyusun dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ TOKOH DAN AJARAN SYI’AH ”.

Penulisan makalah ini dimaksudkan untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah  Ilmu Kalam. Adapun isi dari  makalah  yaitu menjelaskan tentang pengertian syi’ah, sejarah berdirinya, ajaran-ajaran, dan tokoh-tokohnya.

Penyusun  berterima  kasih  kepada Bapak Gusnam Haris, SHI. selaku  dosen  mata  kuliah  Ilmu Kalam yang telah memberikan arahan serta bimbingan, dan juga kepada semua pihak yang telah membantu baik langsung maupun tidak langsung dalam penulisan makalah ini. Seperti pepatah mengatakan “Tak ada gading yang tak retak”. Penyusun menyadari makalah ini masih jauh dari sempurna. Hal ini semata-mata karena keterbatasan kemampuan penyusun sendiri. Oleh karena itu, sangatlah penyusun harapkan saran dan kritik yang positif dan membangun dari semua pihak agar makalah ini menjadi lebih baik dan berdaya guna di masa yang akan datang.

Yogyakarta, 20 Oktober 2012

ttd

Penyusun

 

 

 

 

 

 

 

DAFTAR ISI

              Kata Pengantar………………………………………………………………………………………………… i

               

I)    Pendahuluan ………………………………………………………………………………………………  4

A) Latar Belakang ………………………………………………………………………………….  4

B)  Rumusan Masalah ……………………………………………………………………………..  5

C) Tujuan Penulisan ……………………………………………………………………………….  5

 

II) Pembahasan ……………………………………………………………………………………………….  6

A) Pengertian Syi’ah ……………………………………………………………………………….  6

B)  Sejarah Munculnya Syi’ah …………………………………………………………………  7

C) Doktrin Syi’ah ……………………………………………………………………………………  8

D) Sekte-Sekte Dalam Syi’ah …………………………………………………………………..  9

E)  Tokoh-Tokoh Syi’ah ………………………………………………………………………….  11

 

III)Kesimpulan ……………………………………………………………………………………………….  13

 

              Daftar pustaka ………………………………………………………………………………………………….  14

 

 

 

 

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

            Syi’ah dari segi bahasa berarti pengikut, kelompok, atau golongan. Dari segi terminologi berarti satu faham dalam islam yang menyakini bahwa khalifah ke-empat dari Khulafahur Rasyidin ( khalifah yang diberi petunjuk ) khalifah Ali bin Abi Thalib r.a dan keturunanya adalah imam-imam atau para pimpinan agama dan umat setelah Nabi Muhamad SAW.

            Pendapat yang paling menonjol tentang munculnya sejarah Syi’ah adalah setelah terbunuhnya khalifah ke-tiga Ustman bin Affan r.a oleh kaum pemberontak Khawari. Golongan-golongan umat terbagi menjadi golongan Jumhur (mayoritas), Khawarij (yang menginginkan agama ekstrim), dan Syi’ah Ali bin Abi Thalib r.a diperkuat setelah ada pertentangan antara Ali bin Abi Thalib r.a dan Muawiyah bin Abu Sufyan.

            Sedangkan Khawarij adalah sebuah golongan yang terbentuk sebagai reaksi politik dari peristiwa at-tahkim (perundingan antara pihak Ali bin Abu Tholib dan Muawiyah). Mereka menolak tahkim karena orang-orang yang bertahkim adalah yang mencari hukum selain hukum Allah. Sedangkan salah satu fatwa kaum Khawarij adalah “laa hukma illa lillaah” (tidak ada hukum selain hukum Allah). Mereka juga adalah orang-orang yang menganggap kafir bagi mukmin yang berdosa besar dan keluar dari jamaah kaum muslimin baik dari segi akidah atau perang untuk memerangi kaum muslimin, golongan ini terbagi kedalam empat golongan:

a)    Al – Muhakimah, yakni mereka yang memisahkan diri dari pemerintahan Ali bin Abi Thalib dan jamaah kaum muslimin ketika Ali mengangkat para sahabat sebagai pemutus suatu hukum lalu mereka mengatakan tiada hukum kecuali di tentukan oleh Allah SWT.

b)   Al – Hurusiah, yakni tempat perkumpulan Khawarij di Harura, Irak ketika menentang Ali bin Abi Thalib.

c)  Ahlun – Narahwan, yaitu golongan yang diperangi oleh Ali bin Abi Thalib.

d) An – Nashibab, adalah mereka yang melakukan permusuhan dengan Ali bin Abi Thalib dan keluarganya serta menyatakan kebenciannya.

            Maka dari itu, dengan melihat latar belakang di atas, penyusun berkeinginan untuk menuliskan makalah ini, di samping itu juga tentunya dalam rangka memenuhi tugas kelompok mata kuliah Ilmu Kalam.

B. Rumusan Masalah

  1. Apa yang dimaksud dengan Syi’ah ?
  2. Bagaimana sejarah dan latar belakang Syi’ah?
  3. Apa pokok ajaran Syi’ah ?
  4. Siapa tokoh-tokoh Syi’ah ?

C. Tujuan Penulisan

            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut :

1. Untuk mengetahui pengertian Syi’ah

2. Untuk dapat menjelaskan sejarah dan latar belakang terbentuknya kaum Syi’ah

3. Untuk mengetahui ajaran-ajaran dari theologi Syi’ah

4. Untuk mengatahui tokoh-tokoh Syi’ah

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    Pengertian Syi’ah

             Syi’ah (Bahasa Arab: شيعة, Bahasa Persia: شیعه) ialah salah satu aliran atau mazhab dalam Islam. Syi’ah menolak kepemimpinan dari tiga Khalifah Sunni pertama seperti juga Sunni menolak Imam dari Imam Syi’ah. Bentuk tunggal dari Syi’ah adalah Syi’i (Bahasa Arab: شيعي.) menunjuk kepada pengikut dari Ahlul Bait dan Imam Ali. Sekitar 90% umat Muslim sedunia merupakan kaum Sunni, dan 10% menganut aliran Syi’ah.

        Istilah Syi’ah berasal dari kata Bahasa Arab شيعة  Syī`ah. Bentuk tunggal dari kata ini adalah Syī`ī  شيعي.

“Syi’ah” adalah bentuk pendek dari kalimat bersejarah Syi`ah `Ali شيعة علي artinya “pengikut Ali”, yang berkenaan tentang Q.S. Albayyinah ayat khoirulbariyyah, saat turunnya ayat itu Nabi SAW bersabda: “Wahai Ali, kamu dan pengikutmu adalah orang-orang yang beruntung” (ya Ali anta wa syi’atuka humulfaaizun)[1]

        Syi’ah menurut etimologi bahasa Arab bermakna: pembela dan pengikut seseorang. Selain itu juga bermakna: Setiap kaum yang berkumpul di atas suatu perkara.Adapun menurut terminologi syariat bermakna: Mereka yang menyatakan bahwa Ali bin Abi Thalib sangat utama di antara para Sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin, demikian pula anak cucunya sepeninggal beliau. Syi’ah, dalam sejarahnya mengalami beberapa pergeseran. Seiring dengan bergulirnya waktu, Syi’ah mengalami perpecahan sebagaimana Sunni juga mengalami perpecahan mazhab.

        Muslim Syi’ah percaya bahwa Keluarga Muhammad (yaitu para Imam Syi’ah) adalah sumber pengetahuan terbaik tentang Qur’an dan Islam, guru terbaik tentang Islam setelah Nabi Muhammad SAW, dan pembawa serta penjaga tepercaya dari tradisi Sunnah.

             Secara khusus, Muslim Syi’ah berpendapat bahwa Ali Bin Abi Thalib, yaitu sepupu dan menantu Nabi MuhammadSAW dan kepala keluarga Ahlu Bait, adalah penerus kekhalifahan setelah Nabi Muhammad SAW, yang berbeda dengan Khalifah lainnya yang diakui oleh Muslim sunni. Muslim Syi’ah percaya bahwa Ali dipilih melalui perintah langsung oleh Nabi Muhammad SAW, dan perintah Nabi berarti wahyu dari Allah.[2]

             Perbedaan antara pengikut Ahlul Bait dan Abu Bakar menjadikan perbedaan pandangan yang tajam antara Syi’ah danSunni dalam penafsiran Alqur’an, Hadis, mengenai  Sahabat, dan hal-hal lainnya. Sebagai contoh perawi Hadis dari Muslim Syi’ah berpusat pada perawi dari Ahlul Bait, sementara yang lainnya seperti Abu Hurairah tidak dipergunakan.

        Tanpa memperhatikan perbedaan tentang Khalifah, Syi’ah mengakui otoritas Imam Syi’ah (juga dikenal dengan Khalifah Ilahi) sebagai pemegang otoritas agama, walaupun sekte-sekte dalam Syi’ah berbeda dalam siapa pengganti para Imam dan Imam saat ini.[3]

  1. B.     Sejarah munculnya Syi’ah

        Para penulis sejarah Islam berpendapat bahwa Syi’ah lahir langsung setelah wafatnya Rosulullah SAW, yaitu pada saat perebutan kekuasaan antara golongan Muhajirin dan kaum Anshor di balai pertemuan Saqifah bani Sa’idah. Pada saat itu bani Hasyim menuntut kekhalifahan bagi Ali bin Abi Thalib. Sedangkan sebagian lainnya bependapat bahwa Syi’ah lahir setelah wafatnya Utsman bin Affan (tahun 644-656 M).[4]

             Syi’ah sebagai pengikut Ali bin Abi Thalib a.s (imam pertama kaum Syi’ah) diketahui sudah muncul sejak Rasulullah SAWW masih hidup. Hal ini dapat dibuktikan dengan realita-realita berikut ini:

        Pertama, ketika Rasulullah SAW  mendapat perintah dari Allah SWT untuk mengajak keluarga terdekatnya masuk Islam, ia berkata kepada mereka: “Barang siapa di antara kalian yang siap untuk mengikutiku, maka ia akan menjadi pengganti dan washiku setelah aku meninggal dunia”. Tidak ada seorang pun di antara mereka yang bersedia untuk mengikutinya kecuali Ali a.s. Sangat tidak masuk akal jika seorang pemimpin  pergerakan di hari pertama ia memulai langkah-langkahnya–memperkenalkan penggantinya setelah ia wafat kepada orang lain dan tidak memperkenalkanya kepada para pengikutnya yang setia.     Atau ia mengangkat seseorang untuk menjadi penggantinya, akan tetapi, di sepanjang masa aktifnya pergerakan tersebut ia tidak memberikan tugas sedikit pun kepada penggantinya dan memperlakukannya sebagaimana orang biasa. Keberatan-keberatan di atas adalah bukti kuat bahwa Imam Ali a.s. setelah diperkenalkan sebagai pengganti dan washi Rasulullah SAW di hari pertama dakwah, memiliki misi yang tidak berbeda dengan missi Rasulullah SAW dan orang yang mengikutinya berarti ia juga mengikuti Rasulullah SAW.

       Kedua, berdasarkan riwayat-riwayat mutawatir yang dinukil oleh Ahlussunnah dan Syi’ah. Rasulullah SAW pernah bersabda bahwa Imam Ali a.s. terjaga dari setiap dosa dan kesalahan, baik dalam ucapan maupun perilaku. Semua tindakan dan perilakunya sesuai dengan agama Islam dan ia adalah orang yang paling tahu tentang Islam.

      Ketiga, Imam Ali a.s. adalah sosok figur yang telah berhasil menghidupkan Islam dengan pengorbanan-pengorbanan yang telah dilakukannya. Seperti, ia pernah tidur di atas ranjang Rasulullah SAW di malam peristiwa lailatul mabit ketika Rasulullah SAW hendak berhijrah ke Madinah dan kepahlawannya di medan perang Badar, Uhud, Khandaq dan Khaibar. Seandainya pengorbanan-pengorbanan tersebut tidak pernah dilakukannya, niscaya Islam akan sirna di telan gelombang kebatilan.

      Keempat, peristiwa Ghadir Khum yang merupakan puncak keistimewaan yang dimiliki oleh Imam Ali a.s. Sebuah peristiwa yang seandainya dapat direalisasikan sesuai dengan kehendak Rasulullah SAW akan memberikan warna lain terhadap Islam.[5]

  1. C.    Doktrin Syi’ah

Syi’ah memiliki beberapa doktrin diantaranya:

a)      Ahlul Bait secara bahasa ahlul bait berarti keluarga, ada 3 bentuk pengertian ahlul bait yaitu:

–          Mencangkup isteri-isteri Rosulullah SAW  dan seluruh Bani Hasyim.

–          Hanya Bani Hasyim.

–          Terbatas hanya Rosulullah SAW, Ali, Fatimah, Hasan, Husein dan imam-imam keterunan Ali.

b)      Al-Bada’ , adalah keputusan Allah yang mampu mengubah suatu peraturan atau keputusan yang telah ditetapkanNya dengan keputusan baru.

c)      Asura, berasal dari kata asyara yang berarti sepuluh.Yang mempunya maksud yaitu hari peringatan wafatnya Husein bin Ali.

d)      Imamah (pemimpin).imamah meyakini bahwa harus ada pemimpin-pemimpin setelah Rosulullah.

e)      Ismah,berasal dari kata asama’  yang berarti terpelihara dan terpelihara. Doktrin ini meyakini bahwa imam-imam sepeti Rosulullah SAW  telah dijamin oleh Allah terhindar dari perbuatan salah dan lupa.

f)        Mahdawiyah, meyakini bahwa akan datangnya juru selamat pada hari akhir yang bernama Imam Mahdi.

g)      Marja’yiyah, dari kata  marja’ yang artinya  tempat kembali.

h)      Raj’ah adalah keyakinan akan dihidupkannya kembali sebagian hamba Allah yang paling sholeh dan yang  paling durhaka untuk menunjukkan kebesaranNya.

i)        Taqiyah, yaitu sifat berhati-hati demi menjaga keselamatan jiwa.

j)        Tawasul,memohon kepda Allah dengan menyebutkan pribadi atau kedudukan seorang imam, nabi, atau bahkan para wali agar do’anya cepat terkabul.

k)      Tawalli dan Tabarri, yang aartinya mengangkat seorang sebagai pemimpinnya, tabarri yang berarti melepaskan diri atau menjauhkan diri dari seseorang.[6]

  1. D.       Sekte-sekte dalam Syi’ah

            Semua sekte dalam Syi’ah sepakat bahwa imam yang pertama adalah Ali bin Abi Thalib, kemudian Hasan bin Ali, lalu Husein bin Ali. Namun setelah itu muncul perselisihan mengenai siapa pengganti imam Husein bin Ali. Dalam hal ini muncul dua pendapat. Pendapat kelompok  pertama yaitu imamah beralih kepada Ali bin Husein, putera Husein bin Ali, sedangkan kelompok lainnya meyakini bahwa imamah beralih kepada Muhammad bin Hanafiyah, putera Ali bin Abi Thalib dari isteri bukan Fatimah.

            Akibat perbedaan antara dua kelompok ini maka muncul beberapa sekte dalam Syi’ah. Para penulis klasik berselisih tajam mengenai pembagian sekte dalam Syi’ah ini. Akan tetapi, para ahli umumnya membagi sekte Syi’ah dalam empat golongan besar, yaitu Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah dan Kaum Gulat.

            Kaisaniyah

Adalah sekte Syi’ah yang mempercayai kepemimpinan Muhammad bin Hanafiyah setelah wafatnya Husein bin Ali. Nama Kaisaniyah diambil dari nama sorang bekas budak Ali bin Abi Thalib, Kaisan, atau dari nama Mukhtar bin Abi Ubaid yang juga dipanggil dengan nama Kaisan.[7]

            Zaidiyah

 Adalah sekte dalam Syi’ah yang mempercayai kepemimpinan Zaid bin Ali bin Husein Zainal Abidin setelah kepemimpinan Husein bin Ali. Mereka tidak mengakui kepemimpinan Ali bin Husein Zainal Abidin seperti yang diakui sekte imamiyah, karena menurut mereka Ali bin Husein Zainal Abidin dianggap tidak memenuhi syarat sebagai pemimpin. Dalam Zaidiyah, seseorang dianggap sebagai imam apabila memenuhi lima kriteria, yakni:  keturunan Fatimah binti Muhammad  SAW, berpengetahuan luas tentang agama, zahid (hidup hanya dengan beribadah), berjihad dihadapan Allah SWT dengan mengangkat senjata dan berani.

             Sekte Zaidiyah mengakui keabsahan khalifah atau imamah Abu Bakar As-Sidiq dan Umar bin Khattab. Dalam hal ini, Ali bn Abi Thalib dinilai lebih tinggi dari pada Abu Bakar dan Umar bin Khattab. Oleh karena itu sekte Zaidiyah ini dianggap sekte Syi’ah yang paling dekat dengan sunnah.[8] Disebut juga Lima Imam dinamakan demikian sebab mereka merupakan pengikut Zaid bin ‘Ali bin Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Mereka dapat dianggap moderat karena tidak menganggap ketiga khalifah sebelum ‘Ali tidak sah. Urutan imam mereka yaitu:

  1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Zaid bin Ali (658–740), juga dikenal dengan Zaid bin Ali asy-Syahid, adalah anak Ali bin Husain dan saudara tiri Muhammad al-Baqir.[9]

            Imamiyah

Adalah golongan yang meyakini bahwa nabi Muhammad SAW telah menunjuk Ali bin Abi Thalib sebagai imam pengganti dengan penunjukan yang jelas dan tegas. Oleh karena itu, mereka tidak mengakui keabsahan kepemimpinan Abu Bakar, Umar, maupun Utsman. Bagi mereka persoalan imamah adalah salah suatu persoalan pokok dalam agama atau ushuludin.

Sekte imamah pecah menjadi beberapa golongan. Golongan yang besar adalah golongan Isna’ Asyariyah atau Syi’ah dua belas. Golongan terbesar kedua adalah golongan Isma’iliyah. Golongan Isma’iliyah berkuasa di Mesir dan Baghadad.[10] Disebut juga Tujuh Imam. Dinamakan demikian sebab mereka percaya bahwa imam hanya tujuh orang dari ‘Ali bin Abi Thalib, dan mereka percaya bahwa imam ketujuh ialah Isma’il. Urutan imam mereka yaitu:

  1. Ali bin Abi Thalib (600–661), juga dikenal dengan Amirul Mukminin
  2. Hasan bin Ali (625–669), juga dikenal dengan Hasan Al-Mujtaba
  3. Husain bin Ali (626–680), juga dikenal dengan Husain Asy-Syahid
  4. Ali bin Husain (658–713), juga dikenal dengan Ali Zainal Abidin
  5. Muhammad bin Ali (676–743), juga dikenal dengan Muhammad Al-Baqir
    1. Ja’far bin Muhammad bin Ali (703–765), juga dikenal dengan Ja’far            Ash-Shadiq
    2. Ismail bin Ja’far  (721 – 755), adalah anak  pertama Ja’far ash-Shadiq dan kakak Musa al-Kadzim.[11]

            Kaum Gulat

Merupakan golongan yang berlebih-lebihan dalam memuja Ali bin Abi Thalib atau imam mereka yang lain dengan menganggap bahwa para imam terdebut bukan manusia biasa, melainkan jelmaan Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri.[12]

E.  Tokoh-tokoh Syi’ah

1

 Nashr bin Muzahim

2

 Ahmad bin Muhammad bin Isa Al-Asy’ari

3

 Ahmad bin Abi Abdillah Al-Barqi

4

 Ibrahim bin Hilal Ats-Tsaqafi

5

 Muhammad bin Hasan bin Furukh Ash-Shaffar

6

 Muhammad bin Mas’ud Al-‘Ayasyi As-Samarqandi

7

 Ali bin Babawaeh Al-Qomi

8

 Syaikhul Masyayikh, Muhammad Al-Kulaini

9

 Ibnu ‘Aqil Al-‘Ummani

10

 Muhammad bin Hamam Al-Iskafi

11

 Muhammad bin Umar Al-Kasyi

12

 Ibn Qawlawaeh Al-Qomi

13

 Abu Ghalib Az-Zurari

14

 Ra`îsul Muhadditsîn, Syeikh Shaduq

15

 Ibnu Junaid Al-Iskafi

16

 Sayid Radhi

17

 Syaikh Mufid

18

 Sayid Murtadha Alamulhuda

19

 Syeikh Abu Shalah Al-Halabi

20

 Ahmad bin Ali An-Najasyi

21

 Syaikh Abu Ja‘far Ath-Thusi, Pendiri Hauzah Najaf

22

 Ibn Syadzan Al-Qomi

23

 Hamzah Bin Abdul Aziz Ad-Dailami (Sallar Ad-Dailami)

24

 Al-Qadhi Abdul Aziz Al-Halabi (Ibn Al-Barraj)

25

 Hakim Al-Haskani

26

 Muhammad Bin Hasan Al-Fattal An-Nisyaburi

27

 Abdul Wahid bin Muhammad At-Tamimi Al-AMudi

28

 Sayid Fadhlullah Ar-Rawandi

29

 Abul Hasan Sa‘id bin Hibatullah (Quthbuddin Ar-Rawandi)

30

 Ibn Hamzah ‘Imaduddin Ath-Thusi

31

 Sayid Abul Makarim Ibn Zuhrah

32

 Ibn Syahr Asyub[13]

 

 

 

 

BAB III

KESIMPULAN

 

   Ajaran dalam Syi’ah amatlah banyak dan berbeda-beda, sehingga kita harus mencari dan mengetahui ajaran-ajaran, doktrin-doktrin, dan tokoh-tokoh yang berdampak besar dalam golongan ini. Selain itu, di dalam aliran Syi’ah ini terdapat banyak  bagian-bagian dan perbedaan pendapat dalam bertahuid. Yang ditandai dengan munculnya beberapa sekte seperti Kaisaniyah, Zaidiyah, Imamiyah, dan Kaum Gulat.

  Hal ini menuntut kita untuk selalu berhati-hati serta mengantisipasi atas adanya doktrin keras yang mungkin berkembang, atau bahkan telah begitu pesat dalam penyebarluasan ajarannya ke negara-negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, seperti di Indonesia. Salah satunya adalah menyatakan bahwa Ali Bin Abi Thalib  sangat utama di antara para Sahabat dan lebih berhak untuk memegang tampuk kepemimpinan kaum muslimin. Bahkan yang lebih parah adalah yang memuja dan menganggap bahwa Ali bin Abi Thalib bukan manusia biasa, melainkan jelmaan Tuhan atau bahkan Tuhan itu sendiri.

Oleh karena itu, sebagai umat Islam kita harus selalu cermat serta berhati-hati dalam meyakini dan mempelajari suatu aliran baik itu Syi’ah maupun aliran pemikiran yang lain. Selain itu, jangan sampai terlalu fanatik, karena fanatisme akan berdampak pada keburukan. Allah tidak menyukai sesuatu yang berlebih-lebihan.

 

 

 

 

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq    Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji

Riwayat di Durul Mansur milik Jalaluddin As-Suyuti

Maqalatul Islamiyyin, 1/137

Bahan ajar ilmu kalam hal:31

Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm

Bahan ajar ilmu kalam hal:25

Baca al-Ghadir, al-Muroja’ah, Akhirnya Kutemukan Kebenaran, dll

Ibid 27-28

Bahan ajar ilmu kalam hal:32-34

Bahan ajar ilmu kalam hal:24

Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Ibnu Taimiyyah

Sayyid Muhibudin al-khotib,mengenal pokok-pokok ajaran syi’ah al-imamiyah,1984 surabaya PT.bina ilmu,hal 25

Bahan ajar ilmu kalam hal:21

Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq    Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji

Riwayat di Durul Mansur milik Jalaluddin As-Suyuti


[1] Tahdzibul Lughah, 3/61, karya Azhari dan Tajul Arus, 5/405, karya Az-Zabidi. Dinukil dari kitab Firaq    Mu’ashirah, 1/31, karya Dr. Ghalib bin ‘Ali Al-Awaji

[2] Riwayat di Durul Mansur milik Jalaluddin As-Suyuti

[3] Sayyid Muhibudin al-khotib,mengenal pokok-pokok ajaran syi’ah al-imamiyah,1984 surabaya PT.bina ilmu,hal 25

[4] Bahan ajar ilmu kalam hal:21

[5] Ash-Sharimul Maslul ‘Ala Syatimir Rasul hal. 567, karya Ibnu Taimiyyah

[6] Bahan ajar ilmu kalam hal:32-34

[7] Bahan ajar ilmu kalam hal:24

[8] Bahan ajar ilmu kalam hal:25

[9] Baca al-Ghadir, al-Muroja’ah, Akhirnya Kutemukan Kebenaran, dll

[10] Ibid 27-28

[11] Maqalatul Islamiyyin, 1/137

[12] Bahan ajar ilmu kalam hal:31

[13] Al-Fishal Fil Milali Wal Ahwa Wan Nihal, 2/113, karya Ibnu Hazm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s