AL-QURAN DAN KITAB-KITAB SAMAWI

AL-QURAN DAN KITAB-KITAB SAMAWI

Falsafah Turunnya Kitab Samawi

Syi’ah meyakini bahwa Allah Swt telah menurunkan sejumlah kitab samawi untuk menuntun umat manusia ke jalan yang lurus, antara lain: Sahifab Ibrahim dan Nuh, Taurat, Injil, dan al-Quran, yang merupakan kitab paiing sempurna. Jika kitab-kitab ini tidak turun, maka manusia akan tersesat dalam perjalanannya menuju ma’rifatullah dan dalam beribadah kepada-Nya. Manusia juga akan kehilangan dasar-dasar taqwa, akhlak, pendidikan, dan aturan-aturan sosial yang dibutuhkannya.

Kitab-kitab samawi ini menyirami rohani manusia bagaikan hujan yang mengguyur bumi dan menumbuhkan di dalamnya bibit-bibit taqwa, akhlak, ma’rifatullah, pengetahuan, dan al-hikmah.

Rasul beriman atas apa yang telah diturunkan Tuhannya kepadanya. Demikian pula orang-orang beriman. Mereka semuanya beriman pada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para utusan-Nya. (QS. 2:285)

Tapi sayang, banyak di antara kitab-kitab samawi itu, telah diselewengkan oleh tangan-tangan jahil dan orang-orang bodoh serta disusupi pikiran-pikiran yang menyesatkan, kecuali al-Quran, yang oleh sebab-sebab yang akan kami jelaskan nanti pada tempatnya tidak dapat diyangkau oleh tangan-tangan kotor untuk diselewengkan. Al-Quran laksana matahari yang memancarkan cahaya sepanyang zaman menerangi hati manusia.

Telah datang dari sisi Allah kepada kamu cahaya dan kitab yang jelas. Melaluinya, Allah memberi petunjuk jalan-jalan keselamatan kepada orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya. (QS.5:15-16)

 

 Al-Quran Mukjizat Terbesar

Syi’ah meyakini bahwa al-Quran adalah mukjizat utarna Nabi Mijhammad saw. Tapi bukan hanya dan sisi kefasihan, keanggian bahasa, keindahan keterangan-keterangannya, dan kesempurnaan maknanya semata, melainkan juga mencakup aspek-aspek lainnya. Untuk mengetahui hal ini lebih jauh silahkan baca buku-buku aqidah dan ilmu kalam.

Karena itu Syi’ah meyakini bahwa tidak seorang pun dapat membuat kitab seperti al-Quran atau bahkan sebuat surat sekalipun. Al-Quran men.antang siapa saja, bahkan secara berulang-ulang, agar mereka membuat seperti al-Quran. Tapi tidak seorang pun yang mampu memenuhi tantangan ini.

Katakanlah, seandainya manusia dan jin bekerjasama untuk membuat yang seperti al-Quran, niscaya mereka takkan dapat membuat Yang sepertirya, sekalipun mereka sa!ing mendukung satu sama lainnya. (QS. 17:88)

Dan jika kamu ragu tantang apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka buatlah sebuah surah yang seperti al-Quran dan ajaklah orang-orangmu, selain Allah, untuk membantumu, jika memang kamu benar. (QS. 2:23)

Syi’ah meyakini bahwa al-Quran tidak akan surut dengan berlalunya zaman. Malah kemukjizatannya semakin berkibar dan keagungannya semakin tampak.

Dalam sebuah hadis dari Imam Ja’far Shadiq as dikatakan bahwa:

Sesungguhnya Allah swt tidak menjadikan al-Quran hanya untuk suatu masa atau suatu kelompok manusia saja. Tapi ia aktual untuk setiap zaman dan cocok untuk setiap masyarakat hingga hari kiamat. (Bihar al-Anwar, 2:280, hadis no: 44)

 

Al-Quran Tidak Mengalami Perubahan

Syi’ah meyakini bahwa al-Quran yang ada di tangan kaum Muslimin saat ini adalah al-Quran yang sama dengan yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw, tanpa sedikitpun mengalami penambahan atau pengurangan.

Para penulis wahyu telah membukukan al-Quran sejak hari-hari pertama turunnya wahyu. Kaum Muslimin senantiasa membacanya siang dan malam dan pada saat melakukan shalat limawaktu. Banyak di antara mereka yang hafal al-Quran di luar kepala. Dalam hal ini, para penghapal dan pembaca al-Quran memperoleh kedudukan khusus dalam masyarakat muslim. Banyak hal menyebabkan al-Quran terpelihara dari penyimpangan dan perubahan, di samping itu, Allah sendiri telah menjamin akan menjaganya sampai kapanpun. Oleh karena itu, al-Quran tidak akan mengalami penyimpangan atau perubahan.

Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan al-Quran dan Kami pula yang akan memeliharanya. (QS. 15:9)

Para pakar dan ulama-ulama terkemuka Islam, baik Sunni maupun Syi’ah, sepakat bahwa al-Quran terpelihara dengan baik dan tidak mengalami sedikitpun perubahan atau tahrif. Kalau toh ada yang berpandangan bahwa telah terjadi tahrif, baik dan pihak Syi’ah atau Sunni, itu hanya oleh segelintir orang, yang nota bene hanya bersandarkan kepada beberapa riwayat, yang oleh ulama kedua belah pihak telah dinyatakan palsu, maudhu’, dan ditolak mentah-mentah, atau dipahami dalam arti perubahan yang bersifat maknawi, al-tahrif al-maknawi, yang berarti telah terjadi penyimpangan terhadap makna ayat al-Quran, bukan redaksinya. Atau paling tidak, telah terjadi pencampuradukan antara tafsir ayat di satu pihak dan teks asli al-Quran di pihak lain.

Dengan demikian, orang-orang yang berpikiran sempit, yang senantiasa menuding Syi’ah atau Sunni telah meyakini tahrif, padahal ulama-ulama terkemuka kedua aliran ini telah menolak mentah-mentah adanya tahrif itu. Sesungguhnya di satu sisi, dengan bodoh telah menohok al-Quran, dan di sisi lain, telah membuat celah untuk mempertanyakan keabsahan kitab samawi nan agung ini. Selain itu, telah memberikan pengabdian besar kepada musuh dan orang-orang yang mengincar Islam.

Selain itu, rnengarnati perjalanan sejarah pembukuan al-Quran, jam’ul-qur’an, sejak zarnan Nabi saw dan perhatian besar yang diberikan kaum Muslimin untuk menulis al-Quran, menghafalnya, dan membacanya, serta adanya penulis-penulis wahyu sejak hari-hari pertama turunnya al-Quran, mengungkapkan kepada kita suatu kebenaran yang tidak dapat diingkari bahwa tangan-tangan jahil tidak akan mampu menjamah al-Quran untuk melakukan tahrif sampai kapanpun.

Dalam pada itu Syi’ah tidak mempunyai al-Quran lain selain yang beredar luas di tangan kaum Muslimin. Untuk menelusuri hal ini, bukanlah sesuatu yang sulit. Rumah-rumah kami, masjid, perpustakaan, dan sebagainya penuh dengan al-Quran. Bahkan berbagai musium malah menyimpan manuskrip-manuskrip al-Quran kuno yang berumur ratusan tahun. Semuanya sama, sedikitpun tidak ada perbedaan. Dan jika dulu penelusuran ini dirasa sulit, tapi masa kita sekarang ini, sama sekali tidak ada kesulitannya, bahkan setiap orang bisa melakukannya dengan baik dan ia akan sampai pada kesimpulan bahwa tudingan-tudingan itu semuanya palsu.

Maka berilah kabar gembira kepada hamba-hamba-Ku yang mendengarkan perkataan kemudian mengikuti apa yang terbaik daripadanya.(QS. 39:17-18)

Dewasa ini, institusi-institusi pendidikan agama kami, Hauzah, aktif mengkaji ilmu-ilmu al-Quran secara luas, yang salah satu kajian pentingnya ialah kajian tentang tidak adanya tahrif dalam al-Quran.

 

Al-Quran dan Kebutuhan Materi Rohani Manusia

Syi’ah meyakini bahwa segala kebutuhan manusia, apakah materi atau rohani, prinsip-prinsip dasarnya telah dijelaskan oleh al-Quran. Al-Quran telah menjelaskan pokok-pokok pikiran tentang poLItik dan pemerintahan, hubungan antar masyarakat prinsip-prinsip pergaulan, perang, damai, hukum, ekonomi, dan sebagainya, yang jika diterapkan pasti akan membawa kesejahteraan dalam kehidupan manusia.

Dan Sesungsnhnya Kami telah turunkan al-Quran sebagai penjelasan bagi segala sesuatu, petunjuk, rahmat, dan pembawa kabar gembira bagi orang-orang Islam. fQS. 16: 89)

Karena itu Syi’ah yakin bahwa Islam selamanya tidak dapat dipisahkan dari masalah pemerintahan dan politik. Bahkan menyeru pemeluknya agar memegang kendali urusan mereka sendiri supaya dapat menghidupkan nilai-nilai Islam yang tinggi dan mendirikan masyarakat yang Islami, yang menegakkan keadilan sejati, terhadap kawan maupun lawan.

Hai orang-orang yang beriman, jadilah penegak-penegak keadilan dan saksi-saksi untuk Allah walaupun atas dirimu sendiri, kedua orang tua, atau keluarga dekat. (QS. 4: 135)

Dan jangan sekali-sekali kebencianmu kepada suatu kaum mendorongmu untuk tidak berlaku adil. Berlakulah adil, sesungguhnya keadilan itu lebih dekat kepada taqwa. (QS. 5:8)

 

Membaca, Mengkaji, dan Mengamalkan

Syi’ah meyakini bahwa membaca al-Quran merupakan salah satu ibadah yang paling utama di antara ibadah-ibadah lainnya, karena membaca al-Quran dapat membantu pembacanya melakukan telaah dan kajian terhadap al-Quran. Sedangkan telaah dan kajian itu sendiri merupakan sumber amal saleh. Allah menyeru nabi-Nya:

Bangunlah pada malam hari kecuali sedikit, yaitu separuhnya atau kurangi sedikit, atau tambahkan sedikit, dan bacalah al-Quran secara tartil. (QS. 73:2-4)

Dan menyeru seluruh kaum Muslimin:

Bacalah apa wng mudah dari al-Quran. (QS. 73:20)

Akan terapi, seperti vang telah kami singgung di atas, bacaan tersebut harus dapat mengantarkannya melakukan telaah dan kajian terhadap al-Quran, baik terhadap makna maupun kandungannya, kemudian menjadikannya mukaddimah bagi pengamalannya.

Apakah mereka tidak menelaah al-Quran? Ataukah hati mereka terkunci? (QS. 47: 24)

Dan Kami telah permudah Al-Quran untuk pelajaran, maka apakah ada yang mau mmgambil pelajaran? (QS. 54:17)

Dan adalah kitab yang Kami turunkan, penuh berkah, maka ikutilah ia. (QS. 6: 155)

Maka, orang-orang yang membatasi diri pada bacaan dan hafalan saja dan tidak mengikutinya dengan perngkajian dan pengamalannya suungguh rugi besar, karena betapa pun ia telah mengamalkan salah satu di antara tiga rukun utama, tetaapi sesungguhnya ia telah menyia-nyiakan dua rukun lainnya yang lebih utama.

 

Pembahasan Menyimpang

Syi’ah meyakini bahwa ada tangan-tangan jahat yang berusaha mengalihkan kaum Muslimin dari melakukan kajian terhadap ayat-ayat al-Quran dan pengamalannva. Pada masa Umayyah   dan   Abbasiyyah   misalnya,   tangan-tangan itu menyibukkan kaum Muslimin dengan isu keqadiman dan kebaharuan al-Quran sehingga membuat umat Islam pecah menjadi dua kelompok yang saling berseteru, yaitu antara pendukung keqadiman al-Quran dan pendukung kebaharuannya, hingga jatuh korban besar di kedua belah pihak.[1] Padahal perdebatan masalah ini sama sekali tidak didasarkan pada prinsip yang benar, yang berhak mendapatkan perhatian sebesar itu, sampai pertengkaran segala, karena jika yang dimaksud dengan kalam Allah  adalah  huruf-huruf dan lembaran-lembaran kertasnya, maka sudah pasti ia adalah baharu, tetapi jika yang dimaksud adalah ilmu Allah, maka ia qadim sebagaimana Dzat-Nya. Namun para penguasa dan khalifah-khalifah tiran pada masa itu terus membesar-besarkan rnasalah ini sehingga kaum Muslimin terlena selama bertahun-tahun, dan tangan-tangan jahat itu, sampai saat ini pun, terus berusaha dengan berbagai cara mengalihkan kaum Muslimin dari pengkajian al-Quran dan pengamalannya.

 

Kaidah Penafsiran al-Quran

Syi’ah meyakini bahwa ayat-ayat al-Quran harus difahami sesuai pengertian umum dan makna harfiyah yang dikandungnya, kecuali jika ada indikasi rasional, qarinah aqliyah, atau tertulis, qarinah naqliyah, di dalam atau di luar ayat, yang menunjukkan makna lain. Akan tetapi qarinab atau indikasi yang dimaksud tidak boleh bersifat meragukan atau masykukah. Demikian pula tidak boleh menafsirkan al-Quran hanya berdasarkan asumsi dan perkiraan.

Sebagai contoh, kita yakin bahwa maksud kata al-‘ama atau buta dalam ayat, Barangsiapa buta di dunia akan buta pula di akhirat, (QS. 17:72), sudah pasti bukan dalam arti buta fisik, sebagaimana makna harfiyah, karena banyak sekali orang buta, tapi baik dan salih. Dengan demikian, maksud buta pada ayat di atas ialah buta hati atau nurani. Mengapa kita tafsirkan seperti itu? Karena demikianlah indikasi rasional atau qarinah aqliyahnya.

Demikian pula ketika al-Quran menggambarkan sekelompok musuh Islam sebagai:

Tuli, bisu, buta. Sesungguhnya mereka tidak berakal (QS. 2:171)

Jelas sekali bahwa yang dimaksud al-Quran dengan sifat-sifat tersebut di atas bukan sifat-sifat fisik, tapi sifat-sifat batin. Pemahaman seperti ini berdasarkan qarinah yang ada.

Demikian pula ketika Allah berfirman, Tetapi kedua tangan-Nya terbentang. (QS. 5:64), atau, Dan buatlah kapal dengan mata Kami. (QS. 11:37), sama sekali tidak dapat dipahami dalam arti mata atau tangan fisik, karena setiap fisik mempunyai bagian-bagian dan memerlukan ruang, waktu, dan arah sehingga ia akan punah, sedangkan Allah mustahil demikian. Kalau begitu, maka makna yang paling tepat untuk kata “kedua tangan-Nya” pada ayat di atas ialah kekuasaan-Nya yang besar, di mana semua alam tunduk pada-Nya. Sedangkan makna “mata”, ialah pengetahuan-Nya terhadap segala sesuatu.

Oleh karena itu Syi’ah tidak dapat membenarkan sikap Jumud atau kaku terhadap kalimat-kalimat di atas, baik yang menyangkut sifat-sifat Allah atau bukan, demikian pula sikap tidak mengindahkan qarinah aqliyah dan naqliyah, karena patuh kepada qarinah merupakan sikap para uqala’, orang-orang berakal, bahkan al-Quran pun menganut sikap ini, seperti vang ditegaskan-Nya:

Kami tidak mengirim seorang rasul kecuali dengan bahasa kaumnya. (QS. 14:4)

Hanya saja perlu diingat bahwa qarinah yang dimaksud harus jelas dan pasti, seperti yang telah kami singgung sebelum ini.

 

Bahaya Tafsir bi al-Ra’yi

Syi’ah percaya bahwa tafsir bi al-ra’yi atau menafsirkan al-Quran berdasarkan pandangan sendiri merupakan salah satu hal yang paling riskan terhadap al-Quran. Hadis-hadis menggolongkannya sebagai salah satu dosa besar, kabirah, sedangkan pelakunya diusir dari hadirat Allah Swt. Misalnya dalam sebuah hadis qudsi disebutkan bahwa Allah Swt berfirman:

Tidaklah beriman kepada-Ku orang yang menafsirkan ucapan-Ku dengan pandangannya sendiri. (Wasail, 28:18, hadis no. 22)

Ini amat jelas karena seorang mukmin yang baik tidak akan menafsirkan ucapan Allah semaunya. Dalam hadis lain, yang banyak dimuat oleh kitab-kitab utama hadis seperti Turmuzi, Nasai, Abu Daud, dan sebagainya disebutkan bahwa:

Barangsiapa mengatakan sesuatu pada Al-Quran dengan pandangannya sendiri atau dengan sesuatu yang ia tidak ketahui, maka tempatnya adalah neraka. (Mabahits fi Ulumil-quran : 304)

Adapun yang dimaksud dengan tafsir bi al-ra’y atau menafsirkan al-Quran dengan pandangannya sendiri lalah menafsirkan al-Quran semaunya, sesuai kepentingan dirinya atau kepentingan kelompoknya, tanpa disertai qariah atau bukti yang menyertai makna ayat itu. Penafsir seperti ini pada dasarnya bukan mengikuti al-Quran, tapi bermaksud agar  al-Quran mengikutinya. Dan tentu saja, orang yang memiliki iman yang utuh kepada al-Quran tidak akan melakukan hal ini.

Selain itu, jika pintu tafsir bi al-ra’yi ini dibuka, maka al-Quran akan kehilangan jati dirinya, sebab setiap orang akan menafsirkannya semaunya dan menerapkan al-Quran atas berbagai aqidah yang menyimpang.

Dengan demikian, tafsir bi al-ra’yi ialah penafsiran yang menyimpang dari kaidah bahasa, sastra, dan pemahaman pemilik bahasa, serta menerapkan al-Quran atas pandangan-pandangan yang sesat, kemauan-kemauan pribadi dan kelompok, sesuatu yang dapat mengakibatkan penyimpangan makna al-Quran.

Masih terdapat beberapa bentuk tafsir bi al-ra’yi. Salah satunya ialah memilih ayat-ayat yang sesuai dengan pandangannya saja. Misalnya, ketika ia menjelaskan masalah syafaat, tauhid, imamah, dan sebagainya, maka ia hanya memilih ayat-ayat terkait yang sesuai dengan pandangannya saja dan meninggalkan ayat-ayat lain yang tidak sesuai dengan pandangannya, yang justeru dapat berfungsi sebagai penjelas ayat-ayat lain.

Singkat kata, jumud atau kaku terhadap ayat-ayat al-Quran dan tidak mengindahkan qarinah aqliyah dan naqliyah yang benar merupakan bagian dari penyimpangan terhadap al-Quran. Demikian pula tafsir bi al-ra’yi. Keduanya membuat kita jauh dan ajaran dan nilai-nilai al-Quran yang amat tinggi.

 

Sunnah Yang Diilhami Al-Quran

Syi’ah meyakini bahwa seseorang tidak dapat mengatakan, kafana kitabullah, cukup bagi kami kitab Allah saja, dan bersikap masa bodoh kepada hadis Nabi yang berfungsi menafsirkan kebenaran-kebenaran al-Quran, menjelaskan nasikh dan mansukh, khas dan ‘am, serta menerangkan pokok-pokok agama dan cabang-cabangnya, karena, ayat-ayat al-Quran sendiri menjadikan sunnah Nabi dan sirahnya sebagai hujjab bagi Muslimin dan sumber utama untuk memahami agama dan menyimpulkan hukum, istinbath al-ahkam.

Dan apa yang dibawa oleh Rasul kepadamu terimalah, dan apa yang dicegahnya jauhilah. (QS. 59:7)

Tidak ada hak bagi seorang mukmin, laki maupun perempuan, jika Allah dan rasul-Nya memutuskan suatu perkara mengambil pilihan lain dari urusan mereka. Maka barangsiapa menentang Allah dan rasul-Nya sungguh telah sesat sesesat-sesatnya. (QS. 33:36)

Maka, orang yang tidak peduli kepada al-Sunnah sesungguhnya telah memalingkan diri dari al-Quran.Tentu saja al-Sunnah harus diambil dari jalur-jalur yang benar, muktabarah, karena tidak semua yang dikatakan dari Nabi adalah betul-betul dari Nabi, karena banyak yang berbohong atas nama Nabi saw. Imam ‘Ali as dalam salah satu khutbahnya mengungkapkan: … (Bagian ini tidak tercetak dalam buku!)

Kedua, pernyataan para imam Ahlulbait as bahwa semua ucapan mereka adalah hadis Nabi saw dan apa pun yang mereka ucapkan sesungguhnya sampai kepada mereka dan orang tua mereka hingga ke Nabi saw.

Ya, Rasulullah saw memang mengetahui masa depan umatnya dan problema-problema yang akan menghadang mereka. Karena itu, ia memberikan jalan keluar kepada mereka yang tercermin dalam mengikuti al-Quran dan imam-imam Ahlulbait as.

Jika demikian, apakah pada tempatnya mengacuhkan hadis penting ini dan menganggapnya sebagai angin lalu? Karena itu, kami percaya bahwa jika persoalan ini mendapat perhatian lebih besar, maka sebagian problema yang dihadapi kaum Muslimin dewasa ini, yakni dalam masalah aqidah, tafsir, dan fiqh tidak akan pernah muncul.


[1] Pada beberpa buku sejarah disebutkan bahwa Khalifah Ma’mun dengan bantuan salah seorang qhodinya menetapkan bahwa siapa yang percaya bahwa al-Quran bukan makhluk dicopot dari jabatan dan kesaksiannya tidak dapat diterima. (Lihat Tarikh ]ami’il- Qur’an, h. 260)

 

Syarat Yang Perlu Untuk Menafsirkan Al-Quran

Daripada buku “Pengantar Usul Tafsir” terbitan Akademi Pengajian Islam UM / iMAP Pengkajian yang berkesan mentgenai al-Qur’an adalah amat penting memandangkan ia adalah kalam Allah yang mengandungi keseluruhan ajaran yang disampaikan kepada nabi Muhammad s.`a.

Oleh: Dr. Fauzi Deraman Mustaffa Abdullah Daripada buku “Pengantar Usul Tafsir” terbitan Akademi Pengajian Islam UM / iMAP Pengkajian yang berkesan mentgenai al-Qur’an adalah amat penting memandangkan ia adalah kalam Allah yang mengandungi keseluruhan ajaran yang disampaikan kepada nabi Muhammad s.`a.w. Bagi mencapai tujuan ini para ulama telah menetapkan beberapa syarat kepada para mufassir supaya kesucian dan kemurnian wahyu sentiasa terpelihara.

Syarat-Syarat Mufassir: Para ulama telah mengemukakan beberapa syarat kepada mufassir untuk membantu mereka supaya dapat mentafsir ayat-ayat al-Qur’an selari dengan kehendak Allah dan terhindar daripada melakukan kesilapan ketika mentafsirkan ayat-ayat tersebut. Antara syarat mufassir adalah seperti berikut: (1)

1. Akidah yang benar. Syarat yang pertama ini adalah terlalu penting kerana akidah memainkan peranan yang besar kepada setiap mufassir dan menjadi faktor pendorong kepada seseorang mufassir untuk melakukan penyelewengan terhadap ayat-ayat al-Qur’an dan juga penipuan dalam perwayatan. Mereka juga mudah terdorong kepada mazhab-mazhab yang menyeleweng dengan mengemukakan pentakwilan yang bertentangan dengan akidah yang benar.

2. Bersih daripada hawa nafsu kerana ia akan mendorong dirinya membela dan menegakkan kepentingan dan keperluan mazhabnya semata-mata sehingga ia berupaya menipu manusia lain dengan ucapan-ucapan lembut dan keterangan-keterangan yang menarik minat seseorang seperti yang dilakukan oleh golongan yang menyeleweng daripada ajaran Islam.

3. Mempunyai keahlian dalam bidang hadith: riwayat dan dirayah, kerana hadith-hadith nabi merupakan penjelasan dalam menafsirkan ayat-ayat mujmal dan mubham dan seterusnya hadith-hadith Rasulullah s.`a.w. akan membantu pentafsir dalam menerangkan segala kemusykilan yang timbul berhubung dengan perkara ini.

4. Mempunyai pengetahuan yang luas dalam bidang bahasa dan ilmu-ilmu yang berkaitan memandangkan pentafsiran ayat-ayat al-Qur’an berkait rapat dengan i`rab perkataan dan tatabahasa. Oleh itu ilmu pengetahuan yang sedikit tidak dapat membantu seseorang mentafsir al-Qur’an dengan baik. Mujahid bin Jabr berkata:”Tidak wajar bagi seseorang yang beriman dengan Allah dan hari akhirat memperkatakan mengenai kitab Allah sedangkan dia tidak mengetahui dialek-dialek bahasa Arab.

(2) 5. Berpengetahuan dalam ilmu qiraat kerana denganya seseorang itu dapat mengetahui cara-cara mengucapkan lafaz-lafaz al-Qur’an dan dapat pula memilih bacaan yang lebih kuat di antara pelbagai ragam bacaan yang ada, malah qiraat juga dapat mempastikan maksud yang sebenar apabila berlakunya perselisihan.

6. Mengetahui dalam ilmu Nahu dan Sarf kerana pemahaman sesuatu ayat kebanyakannya memerlukan kepada kebolehan mengi`rab seseuatu perkataan dan seseorang yang tidak memiliki dua ilmu ini akan mendedahkan pentafsiran al-Qur’an kepada penyelewengan. Contohnya { íæã äÏÚæ ßá ÇäÇÓ ÈÇãÇãåã } ada yang berpendapat perkataan {ÇáÇãÇã} adalah kata jama` dari perkataan {ÇáÇã}. Dengan itu ayat di atas bermaksud “pada hari kiamat setiap seseorang akan dipanggil dengan ibu-ibu mereka dan bukannya dengan bapa-bapa”.

(3) Pentafsiran ini adalah salah menurut pandangan al-Zamakhsyari disebabkan mereka kurang mendalam dalam bidang ilmu Sarf.

(4) 7. Berpengetahuan yang luas dalam bidang `Ulum al-Qur’an dapat membantu memahami ayat-ayat al-Qur’an dengan betul dan mendalam. Contohnya Asbab al-Nuzul akan menolong mufassir dalam memahami maksud ayat berdasarkan latar belakang penurunan ayat. Begitu juga mengetahui Makki dan Madani dapat menyelesaikan kekaburan ini. Contohnya penelitian kepada ayat-ayat jihad akan menyebabkan mufassir dapat menggambarkan kewajipan jihad dengan maksud yang sebenar.

(5) 8. Mendalami ilmu Usuluddin dan ilmu tauhid kerana dengannya seseorang mufassir diharapkan dapat mentafsirkan ayat-ayat al-Qur’an yang berkaitan dengan ketuhanan dan hak-hak Allah dengan betul dserta tidak mentakwilkannya dengan sewenang-wenangnya atau melampaui batasan.

9. Berpengetahuan dalam Usul Fiqh kerana ia dapat membantu mufassir bagaimana hendak membuat kesimpualan dari ayat-ayat al-Qur’an dan berdalil dengannya. Begitu juga mengenai ayat-ayat mujmal dan mubayyan, umum dan khusus, mutlak dan muqayyad, amar dan nahy dan perkara-perkara yang berkaitan. 10. Mengetahui ilmu-ilmu lain seperti ilmu sosiologi dan antropologi, zologi dan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan maklumat umum seperti sejarah, geografi, saikologi dan sebagainya. Semunya dapat membantu dalam mentafsirkan al-Qur’an selaras dengan tuntutan kehidupan.

11. Memulakan tafsir al-Qur’an dengan al-Qur’an itu sendiri, di mana perkara yang diterangkan secara ringkas di satu tempat dijelaskan secara terperinci di tempat yang lain.

 

12.Mentafsirkan al-Qur’an dengan al-Sunnah kerana akl-Sunnah adalah penjelas kepada al-Qur’an.

13. Sekiranya tidak terdapat tafsiran al-Qur’an dari al-Sunnah, maka hendaklah dirujuk kepada pandangan para sahabat kerana mereka lebih memahami perkara tersebut disebabkan mereka telah menyaksikan penurunan wahyu dan latar belakangnya.

14. Merujuk kepada pendapat tabi`in jika tidak terdapat tafsiran para sahabat dengan syarat terdapat pada riwayat yang sahih. 2. Adab-Adab Mufassir. Selain daripada syarat-syarat yang telah ditetapkan kepada mufassir, mereka juga perlu memiliki beberapa adab yang baik untuk membolehkan mereka mentafsirkan ayat-ayat al-Qur’an, antaranya: (6) i. Niat dan tujuan yang baik, kerana setiap amal perbuatan bergantung kepada niat.Orang-orang yang melibatkan diri dalam pentafsiran al-Qur’an perlu memiliki adab ini dan perlu menjauhkan diri daripada tujuan-tujuan duniawi yang bakal mengheret mengsanya ke arah kehinaan. ii. Berakhlak mulia kerana mufassir adalah umpama seorang pendidik yang didikannya tidak akan mempengaruhi jiwa seseorang selagi ia tidak menjadi role model kepada masyarakat menerusi budi pekerti yang mulia. iii. Taat dan beramal kerana sesuatu ilmu akan mudah diterima oleh orang-orang yang mempraktikannya berbanding dengan orang-orang yang hanya memiliki ilmu pengetahuan yang tinggi tetapi tidak beramal dengannya. Tingkah laku yang mulia hasil daripada ilmu pengetahuan dan amalannya akan menjadikan seseorang mufassir sebagai sumber inspirasi yang baik kepada masyarakat untuk menyelesaikan masalah-masalah agama sebagaimana yang disarankan olehnya. iv. Berakhlak mulia kerana mufassir yang memiliki ciri ini dapat mempengaruhi jiwa seseorang dengan mudah dan adalah terlalu sukar membentuk seseorang sekiranya mufassir itu tidak boleh dijadikan ikutan dan contoh tauladan kepada orang lain. v. Berjiwa mulia, kerana seserang yang mempunyai pengetahuan yang tinggi perlu menjauhkan diri daripada perkara-perkara remeh temeh dan tidak pula mengharapkan pangkat dan penghormatan manusia. vi. Bersikap tawadu` dan lemah lembut kerana kesombongan ilmiah adalah pendinding yang menghalang seseorang yang berilmu daripada memanfaatkan ilmunya kepada dirinya sendiri dan juga orang lain. vii. Tegas dalam menyampaikan kebenaran kerana jihad yang paling utama ialah menyampaikan kebenaran di hadapan pemerintah yang zalim. viii. Mendahulukan orang-orang yang lebih utama daripada dirinya sendiri. Seseorang mufassir seharusnya tidak gugup untuk menafsirkan ayt-ayat al-Qur’an di hadapan mufassir yang lebih pandai pada masa mereka masih hidup. Juga tidak wajar merendahkan mufassir lain setelah mereka meninggal dunia. ix. Menggaris dan mengemukakan langkah-langkah penafsiran secara baik, seperti memulainya dengan menyebut asbab al-nuzul, erti perkataan, menerangkan susunan perkataan, memberi penerangan kepada aspek-aspek balaghah dan i`rab yang mana penentuan makna bergantung kepadanya, menjelaskan makna umum dan menghubungkannya dengan kehidupan sebenar yang dialami oleh umat manusia pada masa itu serta mebuat kesimpulan dan menentukan hukum. Penutup. Sejarah pentafsiran al-Qur’an bermula dengan mantap di bawah bimbingan ilahi di zaman Rasulullah s.`a.w, di mana sumber pentafsirannya adalah dari wahyu ilahi samada menerusi al-Qur’an atau hadis nabawi tauqifi dan tufiqi. Tradisi kecemerlangan ini diteruskan oleh generasi ulama berikutnya iaitu para sahabat, tabi`in, tabi` tabi`in sehinggalah sampai ke zaman kini. Perkembangan ini diwarnai pula dengan ciri-ciri perubahan yang berlaku dalam dunia Islam yang sekali gus mempengaruhi bentuk-bentuk pentafsiran al-Qur’an samada dari sudut ilmu atau metod pentafsiran yang dilakukan oleh para ulama. Perubahan ini adalah selaras dengan perkembangan zaman dan tuntutan umat Islam itu sendiri yang berhadapan dengan persoalan-persoalan baru yang tidak pernah berlaku di zaman sebelumnya. Metod pentafsiran di zaman awal lebih menekankan kepada sumber ma’thur, namun lahir metod baru pada zaman berikutnya iaitu al-tafsir bi al-ra’yi yang memberi penekanan kepada akal yang dipandu oleh wahyu ilahi. Ianya adalah suatu keperluan bagi umat Islam dalam menanggani persoalan baru dan semasa. Manakala golongan sufi pula melihat ayat-ayat al-Qur’an dari dua dimensi iaitu lafaz dan juga makna yang tersirat, lantaran itu lahir metod tafsir bi al-ishari atau sufi. Walau bagaimanapun, metod ini sukar difahami melainkan orang-orang tertentu yang arif dalam bidang kesufian. Metod pentafsiran ini boleh dilihat dalam karya-karya tafsir yang telah dihasilkan oleh mufassir di zaman awal sehinggalah kini. Ternyata mereka telah meninggalkan khazanah ilmu yang amat berharga dan amat rugi sekiranya khzanah ini tidak dikaji dan dimanfaatkan sepenuhnya oleh umat Islam. Rujukan: 1.Al-Syuti, al-Itqan fi `Ulum al-Qur’an, Jld. iv, Hlm. 174-201: al-Zahabi, op.cit, Jld. i, Hlm. 255: al- ‘Ak, Usul al-Tafsir wa Qawa`iduh, Hlm. 186: Ibrahim `Abd al-Rahman, Dirasat fi Manahij al-Mufassirin, Jld. i, Hlm. 39-43: al-Sabbagh, Buhuth fi Usul al-LTafsir, Hlm. 39-40: Muhammad Hamd Zaghlul, al-Tafsir bi al-Ra’yi, Hlm. 172-175: Muhammad Basyuni Faudah, al-Tafsir al-Maudu`i, Hlm. 14-17. 2. Al-Suyuti, al-Itqan fi `Ulum al-Qur’an, Jld. ii, Hlm. 181. 3. Surah al-Isra’: 71. 4. Mulla Ali al-Qari, al-Asrar al-Marfu`ah fi al-Akhbar al-Maudu`ah, Hlm. 495-496. 5. Ibn al-Qayyim, Zad al-Ma`ad, Jld. iii, Hlm. 158: Sayyid Qutb, Ma`alim fi al-Tariq, Hlm. 75. 6. Al-‘Ak, Usul al-Tafsir wa Qawa`iduh, Hlm. 188: Muhammad Hamd Zaghlul, al-Tafsir bi al-Ra’yi, Hlm. 175-177. Oleh: Dr. Fauzi Deraman / Mustaffa Abdullah

 

 


 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s