UTILITY

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG MASALAH
Perilaku pada dasarnya berorientasi pada tujuan. Dengan kata lain, perilaku kita pada umumnya dimotivasi oleh suatu keinginan untuk mencapai tujuan tertentu.
Konsumen adalah individu yang mengkonsumsi barang dan jasa. Dalam melakukan kegiatan konsumsi konsumen berperilaku macam-macam. Namun, pada intinya konsumen ingin memaksimalkan kepuasan dengan sejumlah pendapatan yang dimilikinya.
Dalam teori permintaan telah dijelaskan dijelaskan bahwa semakin tinggi harga suatu barang, semakin sedikit permintaan terhadap barang tersebut. Sebaliknya, semakin rendah harga suatu barang, semakin banyak permintaan terhadap barang tersebut. Teori tingkah laku konsumen menjelaskan sebabnya konsumen akan membeli barang sebanyak-banyaknya pada harga yang rendah danmengurangi pembeliannya pada harga yang tinggi. Makalah ini akan mendalami lebih lanjut pembicaraan tentang sifat permintaan masyarakat ditinjau dari segi ilmu ekonomi dan sedikit mengaitkan dengan prinsip-prinsip islam.

1.2 RUMUSAN MASALAH
1.2.1 Apa yang dimaksud dengan teori tingkah laku konsumen?
1.2.2 Apa yang dimaksud nilai guna dan kepuasan pada teori tingkah laku konsumen?
1.2.3 Bagaimana macam-macam nilai guna?
1.2.4 Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi?
1.2.5 Bagaimana fungsi permintaan dan elastisitas permintaan?
1.2.6 Bagaimana prinsip islam mengenai teori kepuasan konsumen?

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 PERILAKU KONSUMEN
Perilaku konsumen atau tingkah laku konsumen adalah proses dan aktivitas ketika seseorang berhubungan dengan pencarian, pemilihan, pembelian, penggunaan, serta pengevaluasian produk dan jasa demi memenuhi kebutuhan dan keinginan. Perilaku konsumen merupakan hal-hal yang mendasari konsumen untuk membuat keputusan pembelian. Untuk barang berharga jual rendah (low-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan mudah, sedangkan untuk barang berharga jual tinggi (high-involvement) proses pengambilan keputusan dilakukan dengan pertimbangan yang matang.1
Dengan demikian, perilaku konsumen ini didasarkan pada teori perilaku konsumen yang menjelaskan bagaimana seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya, dapat membeli berbagai barang dan jasa sehingga tercapai kepuasan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkannya atau bisa disebut dengan nilai guna.
Pendekatan Perilaku Konsumen :
a. Pendekatan marginal utility (kardinal), kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat dinyatakan secara kuantitatif, sehingga konsumen berusaha memaksimumkan kepuasannya.
b. Pendekatan indifference curve (ordinal), kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang tidak dapat dinyatakan secara kuantitatif, sehingga perilaku konsumen dalam memilih barang yang akan memaksimumkan kepuasan ditunjukkan dalam kurva kepuasan sama.

2.2 NILAI GUNA
Nilai guna barang atu jasa adlah kemampuan barang dan jasa tersebut dalam memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen. Oleh karena itu, maka ada kalanya suatu barang dan jasa meningkat atau berkulang nilai gunanya bagi konsumen tergantung dari kondisi yang dihadapi konsumen. Misalnya nilai guna karena waktu (time utilty), nilai guna karena tempat (place utility), dan sebagainya.

2.2.1 Macam-Macam Nilai Guna;
1. Nilai Guna Objektif
Adalah nilai guna yang sesuai denagan kemampuan barang dan jasa dalam memuaskan kebutuhan, tanpa dipengaruhi oleh persepsi atau selera dari konsumen
2. Nilai Guna Subjektif
Adalah nilai guna yang dipengaruhi oleh anggapan atau persepsi konsumen dalam mengkonsumsi barang dan jasa yang dikonsumsinya.
3. Nilai Guna Total
Adalah nilai guna dari total atau akumulasi kemampuan barang dan jasa yang dikonsumsinya. Nilai guna total merupakan nilai secara keseluruhan yang didapat konsumen dalam mengkonsumsi barang dan jasa.
4. Nilai Guna Marjinal
Nilai guna marginal adalah tambahan nilai guna karena tambahan satu unit konsumsi barang dan jasa. Informasi mengenai nilai guna marginal ini dapat dijadikan dasar untuk menentungkan tingkat konsumsi yang menghasilkan kepuasan maksimum. Nialai guna semakin lama semakin berkurang, sehingga bila tambahan konsumsi ditentukan, maka nilai guna marginal akan menjadi negatif.
Berikut ini diasajikan contoh data mengenai konsumsi pizza yang dilakukan oleh seseorang konsumen beserta nilai gunannya sebagai berikut;

Tabel 4.1 Nilai Guna Marginal
Konsumsi TU MU

0 0 0
1 15 15
2 25 10
3 33 8
4 39 6
5 42 3
6 40 -2
7 35 -5

2.2.2 Biaya, Nilai Guna dan Kepuasan Konsumen

Keterkaitan antara biaya (cost) yang dikeluarkan untuk mendapatkan barang dan jasa yang dikonsumsi, dengan nilai guna yang didapatkan serta kepuasan (satisfaction) yang dirasakan oleh konsumen setelah mengkonsumsi barang dan jasa tersebut dapat kita lihat dari hubungan berikut :
1. Biaya suatu barang dan jasa dimata konsumen berbanding lurus dengan nilai guna barang tersebut. Bila nilai guna meningkat, maka selayaknya harga jual barang dan jasa tersebut meningkat bgitu juga sebaliknya.
2. Nilai guna suatu barang dan kepuasan dimata konsumen adalah berbanding lurus, artinya memaksimumkan kepuasan berarti memaksimumkan nilai gunan barang yang dikonsumsi.
3. Agar kepuasan konsumen maksimum maka nilai guna barang yang dikonsumsi juga harus maksimum, dengan syarat :

2.3 FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KONSUMSI
Faktor-faktor yang mempengaruhi konsumsi konsumen dapat dibedakan menjadi dua yaitu faktor internal dan faktor eksternal
1. Faktor internal :
a. Pendapatan
Pendapatan konsumen berpengaruh pada besar kecilnya konsumsi yang dilakukan. Semakin tinggi pendapatan, konsumsi cenderung semakin besar juga. Sebaliknya, semakin rendah pendapatan maka konsumsi yang dilakukan pun cenderung lebih sedikit.
b. Motivasi
Setiap orang mempunyai motivasinya sendiri-sendiri dalam melakukan konsumsi. Ada yang melakukan konsumsi untuk memenuhi kebutuhan yang benar-benar diperlukan. Namun ada pula yang mengkonsumsi barang karena ikut-ikutan, padahal sebenarnya dia tidak mebutuhkan barang itu. Seperti seorang remaja yang membeli handphone yag dianggap keren oleh teman-temannya.

c. Sikap dan kepribadian
Sikap dan kepribadian individu juga mempengaruhi perilaku konsumsinya. Orang hemat hanya akan membeli barang-barang yang telah direncanakannya dan yang benar-benar ia butuhkan. Orang yang boros akan cenderung membeli barang-barang secara sembarang dan tidak direncanakannya.
2. Faktor eksternal
a. Kebudayaan
Kebudayaan yang terdapat di suatu daerah berpengaruh pada pola konsumsi masyarakat di daerah tersebut. di daerah jepang dan china, orang makan dengan menggunakan sumpit. Sedangakan di Negara barat, sendok dan garpu seringkali ditemani pisau. Tak heran bila konsumsi sumpit di jepang dan china lebih tinggi daripada di Negara barat.
b. Status sosial
Status atau posisi seseorang di dalam masyarakat dengan sendirinya akan membentuk pola konsumsi orang tersebut. konsumsi seeorang presiden, raja, atau menteri sudah jelas berbeda dengan konsumsi sopir taksi, dan tukang kayu. Seseorang yang memiliki status sosial yang tinggi lebih cendrung mengkonsumsi barang-barang yang kualitasnya diatas rata-rata, berbeda halnya seseorang yang memiliki status sosial yang relatif rendah akan lebih memilih barang-barang yang kualitasnya pas-pasan.
c. Harga barang
Sudah menjadi hukum ekonomi bahwa bila harga naik, konsumsi akan menurun, dan bila harga turun, maka konsumsi akan meningkat. Harga barang merupakan faktor utama yang memepengaruhi tinggi rendahnya suatu permintaan atau konsumsi.

2.4 HUBUNGAN NILAI GUNA DAN PERMINTAAN
Hubungan nilai guna dan permintaan dapat dilihat sebagai berikut :
1. Nilai guna suatu barang dan jasa mempengaruhi besarnya permintaan barang dan jasa tersebut , yang berarti semakin tinggi nilai guna , maka permintaan akan barang dan jasa juga semakin tinggi dan sebaliknya.
2. Perubahan volume permintaan suatu jenis barang, dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu:
a. Efek subtitusi yaitu konsumen menukar barang konsumsi karena harga barang tersebut berubah
b. Efek pendapatan yaitu mengubah konsumsi karena pendapatan konsumen beruba

2.5 KONSEP ELASTISITAS
Elastisitas dapat diistilakan kepekaan, atau kepekaaan terhadap sesuatu. Sedangkan elastisitas permintaan adalah kepekaan permintaan terhadap perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan. Termasuk faktor-faktor tersebut adalah harga barang atau jasa, pendapatan konsumen, selera dan jumlah penduduk. Elastisitas penawaran adalah kepekaan terhadap perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi penawaan, seperti harga barang dan jasa, biayaproduksi,teknologi,sumberdaya,danperaturan. Pembahasan tentang elastisitas ini, termasuk kurva dan pembagiannya telah dijelaskan oleh kelompok sebelumnya

2.6 PRINSIP-PRINSIP KONSUMSI DALAM ISLAM
Ada lima prinsip yang mengendalikan tingkah laku konsumen mengenai konsumsi seseorang dalam islam, yaitu:
1. Prinsip Keadilan
Syarat ini mengandung arti ganda penting mengenai mencari rizki secara halal dan tidak melanggar hukum firman Allah “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi…(QS. Al-Baqarah; 169).
2. Prinsip Kebersihan
Prinsip yang kedua ini mengnendaki makanan yang dikonsumsi harus baik atau cocok untuk dimakan tidak kotor atau menjijikan sehingga merusak selera, sekaligus Rasulullah mencontohkan untuk menjaga kebersihan sesuai dengan sabdanya: “makanan diberkahi jika kita mencuci tangan sebelum dan setelah memakannya”. (HR. Tirmidzi, Miskhat)
3. Prinsip Kesederhanaan
Prinsip ini mengandung arti dalam melakukan konsumsi tidak boleh berlebihan, sesuai firman Allah: “Makan dan minumlah dan jangan engkau berlebih-lebihan sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas”.
4. Prinsip Kemurahan Hati
Dalam hal ini Islam memerintahkan agar senantiasa memperhatikan saudara dan tetangga kita dengan senantiasa berbagi rasa bersama.
5. Prinsip Moralitas
Selain hal-hal teknis diatas, Islam juga memperhatikan pembangunan moralitas spiritual bagi manusia, hal tersebut dapat digambarkan dengan perintah agama yang mengajarkan untuk senantiasa menyebut nama Allah dan bersyukur atas karunianya, maka hal tersebut secara tidak langsung akan membawa dampak psikologis bagi pelakunya seperti anti makanan haram baik zat maupun cara mendapatkannya.

BAB III
PENUTUP

3.1 KESIMPULAN
Perilaku konsumen menjelaskan bagaimana seseorang dengan pendapatan yang diperolehnya, dapat membeli berbagai barang dan jasa sehingga tercapai kepuasan tertentu sesuai dengan apa yang diharapkannya.
• Pendekatan Perilaku Konsumen
1. Pendekatan marginal utility (kardinal), kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang dapat dinyatakan secara kuantitatif, sehingga konsumen berusaha memaksimumkan kepuasannya.
2. Pendekatan indifference curve (ordinal), kepuasan konsumen dari mengkonsumsi barang tidak dapat dinyatakan secara kuantitatif, sehingga perilaku konsumen dalam memilih barang yang akan memaksimumkan kepuasan ditunjukkan dalam kurva kepuasan sama.
Konsumen diasumsikan selalu memaksimalkan kepuasannya dengan kata lain konsumen ingin berada di kurva indiferen yang paling jauh dari titik origin. Namun, untuk mencapai kurva indiferen ini, konsumen tidak bisa bebas karena dibatasi oleh kendala anggaran yang tersedia. Selain itu, harga barang juga turut mempengaruhi konsumen sehingga konsumen tidak bebas untuk mencapai tingkat kepuasan yang maksimal.
DAFTAR PUSTAKA

Faizal Noor, Hendri. 2007. Ekonomi Manajerial. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
http://she2008.wordpress.com/2010/06/20/teori-tingkah-laku-konsumen-teori-nilai-guna-utility/
Sukirno, Sadono. 2010. Mikro ekonomi Teori Pengantar. Edisi Ketiga. Jakarta: Rajawali Pers.
Sukwiaty dkk. 2006. Ekonomi SMA Kelas X. Jakrta: Yudistira.
Suprayitno, Eko. 2008. Ekonomi Mikro Perspektif Islam. .Malang: UIN-Malang Press

www.anasunni.wordpress.com

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s