(makalah Ilmu Kalam) Aliran Jabariah dan Qadariah

ALIRAN JABARIYAH DAN QADARIYAH

Makalah Ini Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Kalam

Dosen Pengampu : Gusnam Haris

logo-uin-suka-baru-warna

Disusun Oleh:

Ledy Famulia (1238xxx)

Fajar Khoirul Imam (1238xxx)

Wahyudin Arsyad (1238xxx)

Novia Nurlaila (1238xxx)

Lina Ratnasari (1238xxx)

 

FAKULTAS SYARI’AH DAN HUKUM

UIN SUNAN KALIJAGA, YOGYAKARTA

2012

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah puji dan syukur kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan karunia –Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “ALIRAN JABARIYAH DAN QADARIYAH”  ini dengn baik.

Dalam penyusunan makalah ini, dengan kerja keras dan dukungan dari berbagai pihak, kami telah berusaha untuk  dapat memberikan yang terbaik dan sesuai dengan harapan, walaupun didalam pembuatannya kami menghadapi kesulitan, karena keterbasan ilmu  pengetahuan dan  keterampilan yang kami miliki.

Oleh karena itu pada kesempatan ini, kami ingin mengucapkan terima kasih kepada Bapak Gusnam Haris selaku dosen pembimbing Ilmu Kalam. Dan juga kepada teman –teman yang telah memberikan dukungan dan dorongan kepada kami. Kami menyadari  bahwa dalam penulisan makalah ini terdapat banyak kekurangan,oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat kami butuhkan agar dapat menyempurnakannya di masa yang akan datang. Semoga apa yang disajikan dalam makalah ini dapat bermanfaat bagi teman-teman dan pihak yang berkepentingan.

                                                                                                Yogyakarta, 18 Oktober  2012

                                                                                                                Penyusun

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL……………………………………………………………………..  i

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………… ii

DAFTAR ISI……………………………………………………………………………..   iii

BAB I PENDAHULUAN………………………………………………………………..  1

  1. Latar Belakang Masalah………………………………………………………….    1
  2. Rumusan Masalah………………………………………………………………..     1

BAB II PEMBAHASAN…………………………………………………………………  2

  1. Aliran Jabariyah ………………………………………………………………….    2
  • Asal-Usul Kemunculan Jabariyah……………………………………….      3
  • Doktrin-Doktrin Aliran Jabariyah………………………………………..     4
  1. Aliran Qadariyah…………………………………………………………………    6
  • Asal-Usul Kemunculan Qadariyah……………………………………….     6
  • Doktrin-Doktrin Jabariyah……………………………………………….     7

BAB III PENUTUP………………………………………………………………………  8

  1. Kesimpulan……………………………………………………………………….    8

DAFTAR PUSTAKA……………………………………………………………………  9

 

 

BAB I

PENDAHULUAN

  1. A.    LATAR BELAKANG MASALAH

 

Sejak awal permasalahan teologis dikalangan umat Islam telah terjadi perbedaaan dalam bentuk praktis maupun teoritis. Perbedaan tersebut tampak melalui perdebatan dalam masalah  kalam yang ahirnya menimbulkan berbagai aliran-aliran dalam Islam. Dalam perdebatan tentang teologi ini, yang diperdebatkan bukanlah akidah-akidah pokok seperti iman kepada Allah, kepada malaikat dan lain sebagainya, melainkan perdebatan masalah akidah cabang yang membahas bagaimana sifat Allah, Al-Qur’an itu baru ataukah qodim, malaikat itu termasuk golongan jin atau bukan, dan hal-hal yang berkaitan dengan itu.

Pebedaan tersebut ahirnya menimbulkan berbagai macam aliran diantaranya seperti Khawarij, Syiah, Murji’ah, Mu’tazilah, Jabariyah dan Qodariyah, Asy’ariyah dan Maturidiyah. Dalam bab ini kita akan membahas sedikit banyak tentang aliran Qodariyah dan Jabariyah yang juga timbul akibat dari adanya permasalahan-permasalahan kalam.

  1. B.     RUMUSAN MASALAH

Berdasarkan latar belakang diatas, maka rumusan masalahnya adalah sebagai berikut:

  • Awal mula terbentuknya aliran Jabariyah dan Qodariyah
  • Doktrin-Doktrin dalam aliran Jabariyah dan Qodariyah

BAB II

PEMBAHASAN

  1. A.    JABARIYAH
  2. 1.      Asal Usul kemunculan Jabariyah

Kata jabariyah berasal dari bahasa arab jabara yang artinya memaksa. Didalam Al-Munjid, dijelaskan bahwa jabariyah berasal dari kata jabara yang mengandung arti memaksa dan mengharuskan melakukan sesuatu. Salah satu sifat Allah adalah Al-Jabbar berarti Allah Maha Memaksa. Sedangkan secara istilah Jabariyah adalah menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur).[1]

Mengenai awal mula lahirnya paham jabariyah tidak ada penjelasan yang sarih. Abu Zahrah menuturkan bahwa paham jabariyah muncul sejak zaman sahabat dan masa Bani Umayyah. Ketika para ulama membicarakan tentang masalah Qadar dan kekuasaan manusia yang berhadapan dengan kekuasaan mutlak Tuhan.[2] Adapaun tokoh yang mendirikan aliran ini menurut Abu Zahrah dan al-Qasimi adalah Jahm bin Safwan,[3] yang bersamaan dengan munculnya aliran Qadariayah.

Pendapat lain mengatakan bahwa paham ini telah muncul sejak sebelum agama Islam datang ke masyarakat Arab. Kehidupan bangsa Arab yang diliputi oleh gurun pasir sahara telah memberikan pengaruh besar dalam cara hidup mereka. Di tengah bumi yang disinari terik matahari dengan air yang sangat sedikit dan udara yang panas ternyata  tidak memberikan kesempatan bagi tumbuhnya pepohonan dan suburnya tanaman, tapi yang tumbuh hanya rumput yang kering dan beberapa pohon kuat untuk menghadapi panasnya musim serta keringnya udara. Harun Nasution menjelaskan bahwa dalam situasi demikian masyarakat arab tidak melihat jalan untuk mengubah keadaan disekeliling mereka sesuai dengan kehidupan yang diinginkan. Mereka merasa lemah dalam menghadapi  hidup. Artinya mereka banyak tergantung dengan alam, sehingga menyebabakan mereka memiliki paham fatalisme (jabariyah).[4]

Terlepas dari perbedaan pendapat tentang awal mula lahirnya paham jabariyah, berikut ayat-ayat  yang menunjukkan tentang latar belakang lahirnya paham jabariyah:

  1.  QS Ash-Shaffat: 96

 “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang kamu perbuat itu”.

b.   QS al-Anfal: 17

Artinya : “ Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allahlah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui.”

  1. 2.      Doktrin-Doktrin  Aliran Jabariyah

Asy-Syahratsani berpendapat bahwa aliran jabariyah dapat dikelompokkan menjadi dua bagian, yaitu ekstrim dan moderat.

  1. Jabariyah ekstrim

Disebut sebagai jabariyah ekstrim adalah karena pendapatnya bahwa perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari manusia senditi, tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya. Salah satu tokoh dari aliran Jabariyah ekstrim adalah Jahm bin Sofyan. Ia adalah seorang da’i yang fasih dan lancar (orator), menjabat sebagai sekretaris Harits bin Surais, seorang mawali yang menentang pemerintahan Bani Umayah dari Khurasam.

Berikut beberapa pendapat Jahm yang berkaitan dengan persoalan teologi:

  • Manusia tidak mampu berbuat apa-apa
  • Surga dan neraka tidak kekal
  • Iman adalah ma’rifat atau membenarkan dalam hati
  • Kalam tuhan adalah makhluk

Selain Jahm bin Sofyan, Ja’d bin Dirham pun merupakan tokoh aliran Jabariyah yang pada awalnya dipercaya mengajar di lingkungan Bani Umayah, tetapi setelah tampak pemikirannya yang kontroversial, Bani Umayah menolaknya. kemudian Ja’d lari dari kuffah dan bertemu dengan Jahm, lalu mentransfer pikirannya kepada Jahm untuk disebarluaskan.

Berikut beberapa pikiran Ja’d yang secara umum sama dengan Jahm:

  • Al-Qur’an adalah makhluk
  • Allah tidak memiliki sifat yang serupa dengan makhluknya
  • Manusia terpaksa oleh Allah dalam segala-galanya[5]
  1. Jabariyah moderat

Sebagai jabariyah moderat adalah karena pendapatnya bahwa Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negatif, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya. An-Najjar adalah salah satu tokoh jabariyah yang para pengikutnya disebut An-Najjariyah/Al-Husainiyah.

Berikut beberapa pendapat An-Najjar dalam aliran jabariyah moderat:

  • Tuhan menciptakan segala perbuatan manusia, tetapi manusia mengambil bagian/peran dalam mewujudkan perbuatannya
  • Tuhan tidak dapat dilihat di akhirat,kecuali Tuhan memindahkan potensi hati (ma’rifat) pada manusia.

Tokoh lain yang memprakarsai ajaran jabariyah moderat adalah Adh-Dhirar. Secara umum  Pendapat-pendapatnya hampir sama dengan pendapat An-Najjar.

  1. B.     QODARIYAH
  2. 1.      Asal-Usul Kemunculan Qadariyah

Qodariyah berasal dari bahasa Arab qadaro yang artinya kemampuan/kekuatan. Secara terminologi merupakan suatu aliran yang mempercayai bahwasannya segala tindakan manusia tidak di intervensi oleh Tuhan, manusia adalah pencipta segala perbuatannya, dapat berbuat/meninggalkan sesuatu atas kehendaknya.

Harun Nasution berpendapat bahwa qadariyah berasal dari pengertian bahwasannya manusia mempunyai qudroh/kekuatan untuk melaksanakan kehendaknya, bukan berasal dari pengertian bahwa manusia terpaksa tunduk pada qadar Tuhan.[6]

Mengenai kapan dan siapa saja tokoh-tokohnya masih menjadi perdebatan. Menurut Ahmad Amin, terdapat ahli teologi yang mengatakan bahwa Qadariyah pertama kali dimunculkan oleh Ma’bad Al-jauhani dan Ghailan Ad-Dimasyqy.[7] Namun Ibnu Nabatah dalam kitabnya Syarh Al-Uyun berpendapat yang bahwa pertama kali memunculkan faham qadariyah adalah orang Irak yang semula beragama Kristen kemudian masuk Islam dan kembali lagi ke agama Kristen. Sebagaimana yang dikatakan Muhammad Ibn Syu’ib yang memperoleh informasi dari Al-Auzai orang tersebut adalah Susan. Dari orang inilah Ma’bad dan Ghailan mengambil faham qadariyah.

  1. 2.      Doktrin-Doktrin Qadariyah

Harun Nasotion menjelaskan pendapat Ghalian tentang doktrin qadariyah bahwa manusia berkuasa atas perbuatannya. Manusia melakukan baik ataupun buruk atas kehendak dan dayanya sendiri. Apabila seseorang berbuat baik akan diberi ganjaran kebaikan dengan surga, dan begitupun sebaliknya apabila seseorang berbuat buruk maka akan diberi ganjaran siksa dengan neraka, itu berdasarkan pilihannya sendiri bukan atas takdir Tuhan. Oleh kerana itu, manusia yang berbuat akan mendapatkan balasannya sesuai dengan tindakannya.[8]

Faham takdir  dalam pandangan qadariyah bukalah berarti manusia bertindak menurut nasib yang telah ditentukan sejak azali, melainkan takdir itu adalah ketentuan Allah yang diciptakan-Nya bagi alam semesta beserta seluruh isinya sejak azali, yaitu hukum yang dalam istilah AL-Qur’an disebut sebagai sunatullah.

Kaum qadariyah berpendapat bahwa tidak ada alasan yang tepat untuk menyandarkan segala perbuatan manusia kepada perbuatan Tuhan. Ayat-ayat Al-Qur’an yang mendukung faham ini adalah:

  1. QS Al-Kahfi : 29

Artinya : “Katakanlah kebenaran dari Tuhanmu, barang siapa yang mau beriman maka berimanlah dan barang siapa yang mau kafir maka kafirlah”. (QS. Al-Kahfi : 29).

  1. QS Ali Imran : 165

Artinya : “dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), Padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: “Darimana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”. (QS.Ali Imran :165)

  1. QS Ar-Ra’d : 11

Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak merobah Keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan[Tuhan tidak akan merobah Keadaan mereka, selama mereka tidak merobah sebab-sebab kemunduran mereka.] yang ada pada diri mereka sendiri”. (QS.Ar-R’d :11)

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Aliran Jabariyah merupakan aliran yang menolak adanya perbuatan dari manusia dan menyandarkan semua perbuatan kepada Allah. Dengan kata lain manusia mengerjakan perbuatan dalam keadaan terpaksa (majbur). Terbagi menjadi dua yakni jabariyah ekstrim dan moderat.disebut sebagai jabariyah ekstrim adalah karena pendapatnya bahwa perbuatan manusia bukan merupakan perbuatan yang timbul dari manusia senditi, tetapi perbuatan yang dipaksakan atas dirinya.sedangkan disebut sebagai jabariyah moderat adalah karena pendapatnya bahwa Tuhan menciptakan perbuatan manusia, baik itu positif atau negatif, tetapi manusia mempunyai bagian di dalamnya.

Aliran Qadariyah merupakan suatu aliran yang mempercayai bahwasannya segala tindakan manusia tidak di intervensi oleh Tuhan, manusia adalah pencipta segala perbuatannya, dapat berbuat/meninggalkan sesuatu atas kehendaknya. Doktrin-doktrin aliran qadariyah diantaranya adalah bahwa manusia berkuasa atas perbuatannya. Manusia melakukan baik ataupun buruk atas kehendak dan daya nya sendiri.

Kedua aliran diatas sagatlah bertolak belakang dalam setiap pendapat dan doktrin-doktrinnya, dan masing-masing memiliki landasan-landasan dari Al-Qur’an yang sangat mereka yakini kebenarannya.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar,Rosihan.2006.Ilmu Kalam.Bandung:Pustaka Setia

Hadariyansyah.2008.Pemikiran-Pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam.Banjarmasin:Antasari Press

Nasution,Harun.1986.Teologi Islam:Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan.Jakarta:UI Press


[1] Rosihan Anwar,Ilmu Kalam,cetakan ke-3,2006:63

[2] Tim Ensiklopedi Islam,”Jabariyah” cetakan ke-4,1997:239

[3] Adapun riwayat Jahm tidak diketahui dengan jelas, namun beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa ia berasal dari Khurasan yang juga dikenal dengan tokoh Murji’ah dan sebagai pemuka golongan Jahmiah, karena gerakannya dalam melawan kekuasaan Bani Umayah, Sehingga ia ditangkap.

[4] Harun Nasution,Teologi Islam:Aliran-Aliran Sejarah Analisa Perbandingan,1986

[5] Rosihan Anwar,Ilmu Kalam,cetakan ke-2 tahun 2006:68

[6] Rosihan Anwar,Ilmu Kalam,cetakan ke-2 tahun 2006:32,Abudin Nata,Ilmu Kalam,Filsafat dan Tasawuf,1998:36

[7] Rosihan Anwar ,Ilmu Kalam,cetakan ke-2 tahun 2006:71,Hadariyansyah,Pemikiran Teologi dalam Sejarah Pemikiran Islam,2008:32

[8] Rosihan Anwar,Ilmu Kalam,cetakan ke-2 tahun 2006:73

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s