MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pendidikan Kewarganegaraan

Dosen Pembimbing : H. Akhmad Rifa’i

     logo-uin-suka-baru-warna

 Disusun Oleh:

Saptian Putri                           12210014

PROGRAM STUDI KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN KALIJAGA YOGYAKARTA

2012

 

DAFTAR ISI

 

HALAMAN JUDUL…………………………………………………………………………………………………….i

DAFTAR ISI. 1

BAB I PENDAHULUAN

A. LATAR BELAKANG……………………………………………………………………………………………..2

B. RUMUSAN MASALAH…………………………………………………………………………………………2

BAB II PEMBAHASAN

TOLERAN BERCORAK KETIMURAN………………………………………………………………………3

MENYATUKAN PERBEDAAN MENJADI KESATUAN YANG UTUH……………………….3

MENGELOLA MASYARAKAT KECIL YANG BANYAK…………………………………………..5

MEMBEDAKAN CIRI KHAS DARI BANGSA LAIN…………………………………………………..5

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN………………………………………………………………………………………………………….7

DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………………8

 BAB I

PENDAHULUAN

 

  1. Latar Belakang

Indonesia sebagai negara yang terletak di antara 2 samudra membuatnya  menjadi negara maritim yang memiliki banyak pulau. Dari keadaan itulah muncul berbagai keanekaragaman, mulai dari bahasa, suku, agama, dan ras. Keanekaragaman inilah yang terkadang menjadi sumber permasalahan bagi Indonesia, yaitu tentang nasionalisme. Menyatukan berbagai keberagaman bukan sesuatu yang mudah. Untuk itu makalah ini membahas cara-cara menyatukan bangsa Indonesia menjadi bangsa yang satu, bangsa yang utuh.

  1. Rumusan Masalah :

1. Apa yang dimaksud toleran bercorak ketimuran menurut Soekarno?

2. Bagaimana menyatukan perbedaan menjadi kesatuan yang utuh?

3. Bagaimana memadukan/mengelola masyarakat kecil yang banyak menjadi bangsa yang bersatu?

4. Bagaimanakah kita bisa membedakan ciri khas dari bangsa lain?

 BAB II

PEMBAHASAN

 

1. Apa yang dimaksud toleran bercorak ketimuran menurut Soekarno?

Sejak dahulu, bangsa Indonesia berkeyakinan bahwa pada hakekatnya semuamanusia dilahirkan sama, dan karena itu yang hidup dan menikmati kehadapansepenuhnya watak mesti bangsa Indonesia yang sebenarnya, tidak menyukai perbedaan perihal martabat yang disebabkan karena perbedaan warna kulit, daerahketurunan dan kasta seperti yang terjadi masyarakat feodal. Karena pengaruh keadaan geografisnya yang terpencar antara satu wilayah denganwilayah yang lainnya, antar satu pulau dengan pulau lainnya maka Indonesia terkenalmempunyai banyak perbedaan yang beraneka ragam sejak dari perbedaan bahasadaerah, suku bangsa, adat istiadat, kesenian dan kebudayaannya (bhineka), tetapikarena mempunyai kepentingan yang sama, maka setiap ada bahagian yangmengancam dari luar selalu menimbulkan kesadaran bahwa dalam kebhinekaan ituterdapat ketunggalan yang harus diutamakan kesadaran kebangsaan yang berbedayaitu sebagai bangsa Indonesia.

Sebagai pemimpin pertama Indonesia, Soekarno sangat memahami adanya perbedaan yang dimiliki bangsa Indonesia. Untuk itu beliau begitu memperhatikan aspek toleransi antarbangsa sebagai modal menuju Indonesia yang satu.

2. Bagaimana menyatukan perbedaan menjadi kesatuan yang utuh?

Sekelompok besar manusia yang mendiami berpuluh-puluh ribu kepulauan di Nusantara dari Sabang sampai Merauke, sungguhpun terdiri atas bermacam-macam suku bangsa, menganut berbeda-beda agama, berpaham politik aneka aliran, namun karena mempunyai persamaan asal-usul leluhur, persamaan nasib jaya derita si masa yang lampau, persamaan perjuangan dalam membebaskan diri dari kungkungan penjajahan, dan di samping itu mempunyai hasrat yang kuat untuk hidup bersama dalam satu negara, maka segenap manusia yang mendiami seluruh wilayah tanah air dari Sabang sampai Merauke itu nyata-nyata merupakan satu jiwa, yaitu jiwa Indonesia ber-Pancasila, merupakan satu solidaritas besar, yaitu solidaritas nasionalisme Indonesia, merupakan satu persatuan watak, yakni serangkai dalam filsafat negara Pancasila. Semua itu tercermin dalam “Bhineka Tunggal Ika”.

Nasionalisme Indonesia sebagai suatu solidaritas nasional telah dinyatakan sejak Sumpah Pemuda tahun 1928, kemudian dimantapkan menjelang Proklamasi Kemerdekaan dengan semangat persatuan dan kesatuan sebagai prinsip sila ketiga Pancasila yaitu Persatuan Indonesia. Persatuan Indonesia yang dimaksudkannya ialah:

“Usaha ke arah bersatu dalam kebulatan satu kesatuan rakyat untuk membina nasionalisme dalam negara Indonesia.”

Konsep persatuan ini mengandung makna dinamis, yaitu penuh semangat dan tenaga sehingga cepat bergerak dan mudah menyesuaikan diri dengan keadaan yag terus berkembang sesuai dengan tuntutan zamannya dan bergerak menuju kesempurnaan, hasil persatuan adalah kesatuan bangsa, berupa nasionalisme Indonesia atau nasionalisme Pancasila.

Paham nasionalisme Indonesia tidak bersifat sempit yang menjurus kepada rasialisme (paham bahwa ras diri sendiri adalah ras yang paling unggul), jingoisme (pandangan yang terlalu mengagung-agungkan kebesaran dan kekuasaan negeri sendiri), ataupun chauvinisme (sifat patriotik yang berlebih-lebihan). Atau sebaliknya nasionalisme Indonesia tidak bersifat luas tak terbatas seperti kosmopolitanisme (paham bahwa seseorang tidak perlu mempunyai kewarganegaraan tetapi menjadi warga dunia atau paham terbesar di seluruh dunia) ataupun internasionalisme (paham antarbangsa). Kedua-duanya tidak dianut, tetapi persatuan Indonesia sebagai prinsip dan corak nasionalisme Indonesia adalah tegas dan jelas, yang disebut nasionalisme Pancasila, yaitu salah satu bentuk nasionalisme dengan ciri khusus berketuhanan Yang Maha Esa berkemanusiaan yang asil dan beradab berkerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan dan berkeadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Dengan ciri khusus demikian itu, maka nasionalisme Indonesia merupakan nasionalisme yang menerima bangsa lain menjadi rakyat Indonesia sebagai kesatuan, dan menghargai bangsa lain sebagai sesama makhluk Tuhan, serta menghargai karya bangsa lain.

Sebagai kesimpulan tentang nasionalisme Indonesia, maka dapat dirumuskan, bangsa Indonesia adalah sekelompok besar manusia yang beraneka suku, agama, budaya, dan pa ham, serta keturunan asing, namun berkeinginan yang kuat untuk hidup bersama dan bersatu disebabkan oleh beberapa faktor persamaan dan cita-cita sama dalam satu negara dengan pandangan hidup Pancasila, sehingga merupakan suatu pola perpaduan yang serasi dan menghuni satu wilayah tanah air yang nyata-nyata merupakan satu kesatuan dalam ikatan organisasi nasional Indonesia. Adapun nasionalisme Indonesia Indonesia atau nasionalisme Pancasila dapat dirumuskan sebagai berikut:

Suatu paham kebangsaan dengan rasa kesatuan yang tumbuh dalam hati sekelompok manusia berdasarkan cita-cita yang sama dalam satu ikatan organisasi kenegaraan Indonesia.

Paham kebangsaan dalam nasionalisme Indonesia merupakan paham kebangsaan dengan semangat patriotisme, oleh karena itu memerlukan tokoh-tokoh pembinaannya. Dalam melangsungkan nasionalisme Pancasila perlu juga adanya suatu doktrin nasional untuk membina ketahanan nasional dalam rangka mengatasi segala ancaman, tantangan, hambatan dan gangguan yang membahayakan identitas serta kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara.

3. Bagaimana memadukan/mengelola masyarakat kecil yang banyak menjadi bangsa yang bersatu?

Pada hakikatnya, masyarakat Indonesia adalah bangsa yang satu, meskipun terpisah dalam pulau-pulau. Dengan keberagaman yang melekat pada masing-masing masyarakat, bahasa Indonesia sebagai bahasa nasional nyatanya telah berhasil menyatukan bangsa Indonesia. Mereka rela melepas identitas kedaerahannya demi satu, identitas Indonesia. Pemahaman bahwa kesatuan bangsa itu penting menentukan keberhasilan negara mencapai persatuan. Program tranmigrasi merupakan salah satu contoh riil untuk mempraktikkan prinsip toleransi antarbangsa, karena di situlah kita benar-benar dituntut untuk saling memahami.

4. Bagaimanakah kita bisa membedakan ciri khas dari bangsa lain?

Ciri khas yang merupakan kepribadian bangsa dari berbagai suku, bangsa Indonesiaadalah adanya prinsip musyawarah diantara warga masyarakat sendiri dalammengatur tata kehidupan mereka. Sedang kepala desa, kepala suku, dan sebagainyahanya merupakan pamong (pembimbing mereka yang dipilih dan dari antara merekasendiri, prinsip musyawarah dan masyarakat yang merupakan inti dari kerakyatantelah dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat adat seperti : desa marga, kurnia,nagori, banua, dsb. Salah satu bentuk khusus dari kerakyatan ialah kerakyatan dibidang ekonomi, yangdirumuskan sebagai keadilan atau kesejahteraan sosial bagi rakyat Indonesia, asas inisudah dikenal berabad-abad lamanya yang sisanya masih dapat kita jumpai dalammasyarakat terutama di desa, yaitu kebiasaan tolong menolong antara sesamamasyarakat, gotong – royong dalam mengusahakan kepentingan bersama ataumembantu (menolong seseorang yang sangat membutuhkan seperti materialistik,kapitalisme dan individualisme sama sekali tidak disukai oleh bangsa Indonesia,karena tidak memungkinkan tercapainya keadilan / kesejahteraan sosial).

Adapun unsur-unsur yang merupakan faktor-faktor penting bagi pembentukan dan pembinaan bangsa Indonesia antara lain ada lima faktor, yaitu persamaan asal keturuna, persamaan pola kebudayaan, persamaan tempat tinggal, persamaan nasib kesejarahan, dan cita-cita hidup bersama. Faktor pertama sampai keempat merupakan pembentukan bangsa alami, sedang faktor yang terakhir atau yang kelima merupakan pembentukan bangsa buatan atau bangsa negara.

  1. Persamaan asal-keturunan bangsa (etnik), yaitu bangsa Indonesia berasal dari rumpun bangsa Melayu, yan merupakan bagian dari ras Mongoloid dan kemudian diperkaya oleh variasi pencampuran darah antar-ras.
  2. Persamaan pola kebudayaan: terutama cara hidup sebagai suku-suku bangsa petani dan pelaut dengan segala adat-istiadat dan pranata sosialnya; manifestasi persamaan kebudayaan itu jelas nyata sekarang dalam wujud persamaan bahasa Nasional : Bahasa Indonesia.
  3. Persamaan tempat tinggal yang disebut dengan khas Tanah Air, Nusantara, yakni tanah-tumpah darah seluruh bangsa yang merupakan satu kesatuan wilayah laut yang di dalamnya terhimpun berpuluh-puluh ribu pulau.
  4. Persamaan nasib kesejarahannya, baik kejayaan bersama di masa kencana kerajaan-kerajaan besar zaman bahari Sriwijaya dan Majapahit, maupun penderitaan bersama di kala meringkuk di bawah dominasi penjajahan asing.
  5. Persamaan cita-cita hidup bersama sebagai kembang kesadaran dari inspirasi kenangan sebagai bangsa yang merdeka dan berdaulat serta membangun negaranya dalam ikatan kesatuan dan persatuan Indonesia.

Kelima faktor tersebut menjadi dasar bangsa Indonesia dalam menjalani kehidupan bernegara dan sekaligus menjadi ciri khas yang membedakan Indonesia dari bangsa lain.

BAB III

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Dari pembahasan, dapat ditarik kesimpulan bahwa sebagai bangsa yang beraneka ragam, Indonesia wajib menjaga kesatuan dan persatuan agar tidak tergeser dan terpecah. Sebagai negara yang menjunjung tinggi musyawarah diantara warga masyarakat sendiri dalammengatur tata kehidupan mereka itu menjadi kekuatan tersendiri bagi Indonesia untuk tetap menjaga keutuhan bangsa dengan saling menghargai dan menghormati sesama.

  DAFTAR PUSTAKA

Bakry, Noor. 2012: Pendidikan Kewarganegaraan, Cetakan KetigaPustaka Pelajar: Yogyakarta.

www.anasunni.wordpress.com

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s