KEPENDUDUKAN

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Masalah baru-baru ini yang dibicarakan adalah masalah kependudukan. Penduduk di dunia dari tahun ke tahun selalu mengalami peningkatan. Setelah berakhirnya Perang Dunia II,pada beberapa di dunia ini,terjadi semacam “baby boom”,yang berakibat pada “population boom” yang sering disebut juga “population explotion” (ledakan penduduk).Gejala ini tampak pada Negara-negara yang sedang berkembang.Hal ini seolah-olah sebagai suatu reaksi untuk mengimbangi banyaknya penduduk yang musnah akibat perang,dengan memproduksi bayi sebanyak mungkin,agar penduduk yang musnah akibat perang,Memang, dalam batas-batas tertentu banyaknya penduduk merupakan suatu kekuatan.

Dalam era pembangunan sebagaimana  sekarang ini, juga dibutuhkan human resources (sumber daya manusia) yang tangguh,berkualitas,mempunyai skill (ketrampilan) dan spesialis.Sebab inovasi,teknologi modern dan penanaman modal dapat membuat keadaan penduduk justru untuk meningkatkan kemakmuran.[1]Namun pertambahan penduduk juga bisa menjadi beban dimana kebutuhan akan sumber daya alam juga akan semakin meningkat dan ini akan menyebabkan masalah untuk memenuhi kebutuhan tersebut.Sehingga kami membuat makalah ini untuk mencari penyebab-penyebab dinamika masalah penduduk,masalah apa saja yang ditimbulkan dan bagaimana mengatasinya.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa saja faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan penduduk di dunia?

2. Apa sajakah masalah yang ditimbulkan dari dinamika kependudukan di dunia?

3. Apa saja teori-teori dalam  kependudukan ?

4. Apa saja faktor pendorong dan penarik perpindahan penduduk?

5. Bagaimanakah cara mengatasi masalah kependudukan?

BAB II

PEMBAHASAN

2.1 Pertambahan Penduduk

Penduduk merupakan jumlah orang yang bertempat tinggal di suatu wilayah pada waktu tertentu dan merupakan hasil proses-proses demograsi yaitu fertilitas,mortalitas, dan migrasi.[2]

a. Kelahiran (fertilitas)

Fertilitas (kelahiran) merupakan salah satu komponen pertumbuhan penduduk yang bersifat menambah jumlah penduduk.Selain fertilitas dikenal istilah lain yaitu natalitas dan kelahiran (birth).Semakin tinggi angka kelahiran di suatu negara semakin tinggi pula penduduk Negara tersebut.

Bentuk-bentuk pengukuran dan perhitungan fertilitas :

    1. Crude Birth Rate ( CBR ) atau Angka Kelahiran Kasar

CBR  diperoleh dengan cara membandingkan jumlah kelahiran selama satu tahun ( B ) dengan jumlah penduduk pada pertengahan tahun ( P ) dikalikan K (konstan) dimana k biasanya 1.000 atau 100

CBR =  x k

B : jumlah kelahiran selama 1 tahun

P : jumlah penduduk pada pertengahan tahun

K : bilangan konstan, biasanya 1000

Contoh :

Soal : Penduduk Indonesia pada pertengahan tahun 2011 = 200 juta, sedang jumlah kelahiran selama tahun 2011 = 8 juta.Berapa CBR-nya ?

Jawab : CBR =  x 1000 = 40

Artinya tiap 1.000 penduduk selama satu tahun melahirkan 40 bayi.Perhitungan ini dikatakan kasar,karena pada penyebut (penduduk)  dimasukan semua penduduk, laki-laki, perempuan, anak-anak dan orang lanjut usia, yang sebenarnya tidak melahirkan bayi.

Kebaikan dari cara ini adalah perhitungannya sederhana, sedang kelemahannnya adalah tidak benar-benar mencerminkan angka fertilitas sebab penduduk itu termasuk anak-anak, orang tua, laki-laki perempuan dan sebagainya, dimana tidak seluruh penduduk melahirkan.

    1. General Fertility Rate ( GFR ) atau Angka Kelahiran Umum
      General Fertility Rate adalah jumlah kelahiran hidup perseribu wanita usia usia 15-49 tahun pada tahun tertentu.Secara matematis dapat ditulis :

CBR =  x k

B : jumlah kelahiran selama 1 tahun

P : jumlah penduduk wanita umur 15-49 th  pada pertengahan tahun

K : bilangan konstan, biasanya 1000

Contoh Soal : Penduduk Indonesia pada pertengahan tahun 2011 sebesar 200 juta,penduduk wanita umur 15-49 tahun sebesar 60 juta sedang jumlah kelahiran selama tahun 2011 = 8 juta.Berapa GFR-nya ?

Jawab : GFR =

Artinya tiap 1.000 wanita umur 15 – 49 tahun selama satu tahun melahirkan 133,34 bayi.Kelemahan perhitungan ini adalah walaupun sudah dikelompokkan pada wanita usia 15 – 49 tahun, tetapi tidak dikelompokkan pada tiap kelompok umur tersendiri karena yang muda dan yang  tua memiliki angka fertilitas yang berbeda.Sedang kebaikannya, perhitungan ini, lebih cermat dari pada CBR, sebab penduduk hanya wanita yang berumur 15 – 49 tahun atau wanita subur.

    1. Age Specific Fertility Rate ( ASFR )
      Age Specific Fertility Rate adalah perhitungan Angka fertilitas perempuan pada tiap kelompok umur dan tahun tertentu.Pengukuran ini mengelompokkan wanita umur 15 – 49 tahun, menjadi kelompok yang lebih kecil, misalnya interval 5 tahunan beserta mencatat jumlah kelahiran yang terjadi pada tiap interval kelas tersebut, selama satu tahun.

ASFR =  x k

Ket :

Bi : jumlah kelahiran dari perempuan pada kelompok umur i pada tahun tertentu

Pif : jumlah penduduk perempuan pada kelompok umur i pada pertengahan tahun

k    : bilangan konstan, biasanya 1.000

Contoh ASFR Canada tahun 1962.[3]

Contoh perhitungan :

ASFR 15 – 19 =

ASFR20-24 =  dsb

    1. Age Spesific Marital Fertility Rate ( ASMFR )

Age Spesific Marital Fertility Rate adalah pengukuran ini membandingkan jumlah kelahiran dalam satu tahun,pada kelompok umur  wanita yang lebih kecil, dengan jumlah wanita yang kawin pada kelompok umur yang lebih kecil dan sama kelompoknya dalam satu tahun dikalikan konstan.

Rumus : ASMFR =

Ket :

Bi : jumlah kelahiran dari perempuan pada kelompok umur i pada tahun tertentu

Pif : jumlah penduduk perempuan yang kawin pada kelompok umur i pada pertengahan tahun

k    : bilangan konstan, biasanya 1.000

  1. Total Fertility Rate ( TFR )

Total Fertility Rate adalah banyaknya anak yang dipunyai oleh 1.000 wanita apabila mereka telah berhasil melalui masa chieldbearing ( telah melahirkan ).

Cara perhitungannya : Hasil besarnya ASFR dijumlah kemudian dikalikan dengan besarnya kelas interval ( misal : 5 tahun ) mendapat TFR.

Rumus TFR15-49 = 5

Contoh : Dari contoh AFR tersebut diatas, maka TFR =  = 3,8

Faktor-faktor yang mempengaruhi tinggi rendahnya fertilitas penduduk :

  • Ø Faktor pendorong kelahiran (pronatalitas)
  1. Anggapan bahwa banyak anak banyak rezeki.
  2. Sifat alami manusia yang ingin melanjutkan keturunan.
  3. Pernikahan usia dini (usia muda).
  4. Adanya anggapan bahwa anak laki-laki lebih tinggi nilainya, jika dibandingkan dengan anak perempuan, sehingga bagi keluarga yang belum memiliki anak laki-laki akan berusaha untuk mempunyai anak laki-laki.
  5. Adanya penilaian yang tinggi terhadap anak, sehingga bagi keluarga yang belum memiliki anak akan berupaya bagaimana supaya memiliki anak.
  • Ø Faktor penghambat kelahiran (antinatalitas)
  1. Adanya program Keluarga Berencana (KB).
  2. Kemajuan di bidang iptek dan obat-obatan.
  3. Adanya peraturan pemerintah tentang pembatasan tunjungan anak bagi PNS.
  4. Adanya UU perkawinan yang membatasi dan mengatur usia pernikahan.
  5. Penundaan usia pernikahan karena alasan ekonomi, pendidikan dan karir.
  6. Adanya perasaan malu bila memiliki banyak anak.

b. Kematian (mortalitas)

Berikut sedikit penjelasan mengenai pengukuran mortalitas :

a)      Crude Death Rate (CDR) atau Angka Kematian Kasar
Crude Death Rate adalah banyaknya kematian pada tahun tertentu, seribu penduduk pada pertengahan tahun.

Rumus = CDR =

Ket : D = jumlah kematian pada tahun tertentu.

P = jumlah penduduk pada pertengahan tahun tertentu.

k = konstan, biasanya 1.000

Contoh Soal = Penduduk Indonesia pada pertengahan tahun 2011 = 200 juta, sedang jumlah kematian selama tahun 2011 = 2,5 juta.Berapa CDR-nya ?

CDR =  x 1.000 = 12,5

Artinya tiap seribu orang pada tahun 2011 terdapat 12,5 orang yang meninggal.

b)      Age Specific Death Rate (ASDR)
Age Specific Death Rate adalah jumlah kematian penduduk pada tahun tertentu berdasarkan klasifikasi umur tertentu.Risiko kematian akan berbeda dari satu orang ke orang lain,orang umur 40 tahun akan mempunyai risiko kematian yang lebih tinggi dari pada orang yang berumur 20 tahun.

Rumus  = ASDR :

Ket : D.i = jumlah kematian pada umur i

P.i = jumlah penduduk pada pertengahan tahun pada umur i

k   = konstan, biasanya 1.000

Contoh soal : Jumlah penduduk daerah A yang berumur 5-9 tahun sebesar 16 juta.Jumlah kematian dari mereka sebesar  60 ribu jiwa.

Jawab = ASDR =  x 1.000 = 3,75

c)      Infant Mortality Rate (IMR)
Infant Mortality Rate adalah tingkat kematian bayi yang berumur 0-12 bulan atau dibawah satu tahun.

Rumus = IMR :

Ket = D.o = jumlah kematian anak dibawah umur 1 tahun pada tahun tertentu

B  = jumlah kelahiran hidup pada tahun tertentu

k  = konstan, biasanya 1.000

  • Faktor pendorong kematian (promortalitas)
  1. Adanya wabah penyakit seperti demam berdarah, flu burung dan sebagainya.
  2. Adanya bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, banjir dan sebagainya.
  3. Kesehatan serta pemenuhan gizi penduduk yang rendah.
  4. Adanya peperangan, kecelakaan, dan sebagainya.
  5. Tingkat pencemaran yang tinggi sehingga lingkungan tidak sehat.
  • Faktor penghambat kematian (antimortalitas)
  1. Tingkat kesehatan dan pemenuhan gizi masyarakat yang sudah baik.
  2. Negara dalam keadaan aman dan tidak terjadi peperangan.
  3. Adanya kemajuan iptek di bidang kedokteran sehingga berbagai macam penyakit dapat diobati.
  4. Adanya pemahaman agama yang kuat oleh masyarakat sehingga tidak melakukan tindakan bunuh diri atau membunuh orang lain, karena ajaran agama melarang hal tersebut.

2.2 Masalah Kependudukan

Masalah kependudukan yaitu masalah yang timbul sebagai akibat pertumbuhan penduduk itu sendiri, terutama karena kecepatan pertambahannya.

Bentuk-bentuk masalah kependudukan[4]:

1. Masalah kekurangan penduduk  (under population)

Yaitu keadaan pada daerah tertentu di mana jumlah penduduk sedemikian kecilnya, sehingga kekayaan alam yang ada, hanya sedikit yang diusahakan untuk keperluan hidupnya karena kekurangan tenaga untuk mengolah kekayaan alam.

2. Masalah kelebihan penduduk (over population)

Yaitu keadaan pada daerah tertentu selama selama waktu yang terbatas, di mana bahan-bahan kebutuhan hidup tidak dapat mencukupi lagi kebutuhan kebutuhan penduduk dengan layak.

3. Masalah pertambahan penduduk yang cepat

4. Masalah urbanisasi

Mengalirnya (kepindahan) orang-orang yang berasal dari desa-desa ke kota. Kepindahannya disebabkan sulitnya lapangan kerja sebagai akibat kelebihan penduduk di desa.

5. Penyebaran penduduk yang tidak merata

6. Masalah kependudukan  di negara berkembang

  • · Kekurangan tenaga ahli dan modal
  • · Tekhnologi yang belum maju
  • · Struktur ekonomi agraris yang masih primitip tehnologinya

7. Masalah kependudukan di negara maju

  • · Kepadatan penduduk kota
  • · Kesulitan dan kekurangan transportasi yang memadai
  • · Adanya bahaya polusi

Usaha-usaha yang sedang dilakukan oleh pemerintah dalam rangka mengatasi masalah kependudukan yaitu [5]:

1. Meratakan penyebaran penduduk

Program ini bertujuan untuk mengurangi jumlah penduduk di daerah-daerah yang sudah terlalu padat, untuk membuka, membangun serta menggiatkan kehidupan ekonomi di daerah-daerah yang relatif masih jarang penduduknya.

2. Perbaikan dibidang pertanian

Bertujuan untuk mencuckupi kebutuhan akan pangan.

3. Industrialisasi

Dengan industrualisasi dimaksudkan untuk menciptakan serta memperluas kesempatan kerja.

4. Pengaturan dan pembatasan kelahiran

2.3 Teori Kependudukan

Meskipun masalah kependudukan telah lama diperbincangkan di kalangan masyarakat, namun baru di sekitar abad ke-18 banyak di antaranya yang mulai menganalisis masalah kependudukan secara sitematis. Meskipun banyak para ahli yang menulis tentang masalah kependudukan di dunia, akan tetapi diantara tokoh-tokoh yang dianggap pakar ilmu kependudukan klasik adalah Thomas Malthus dan Karl Marx, sedangkan untuk generasi berikutnya yang paling menonjol adalah Warren Thompson dengan teori demografi transisinya.

Orang pertama yang menulis secara sistematis tentang bahaya daripada pada pertumbuhan penduduk adalah Thomas Malthus. Ia adalah salah seorang pendeta dan juga ahli politik ekonomi bangsa Inggris. Pada tahun 1978 ia menerbitkan buku analisis kependudukan berjudul “Essay On The Principle of Population” dan mempertahankan pendapatnya bahwa “natural law” atau hukum alamiah yang mempengaruhi atau menentukan pertumbuhan penduduk.

Menurut Malthus, penduduk akan selalu bertambah lebih cepat dibandingkan dengan pertambahan bahan makanan, kecuali terhambat oleh karena apa yang ia sebutkan sebagai moral restrains, seperti misalnya wabah penyakit atau malapetaka. Rumusan teorinya adalah:[6]

a. Pangan dibutuhkan untuk untuk hidup manusia

b. Kebutuhan nafsu seksual akan tetap sifatnya sepanjang masa.

c. Perkembangan penduduk sesuai dengan deret ukur,sedangkan pekembangan pangan sesuai dengan deret hitung.

Yang kedua adalah Paul Ehrlich (Paul ahli biologi di UniversitasStanford) dan Garret Hardin (ahli biologi di Universitas Universitas California) dengan aliran Neo Malthusians. Pada tahun 1871 Paul menulis buku “The Population Bomb”, dan kemudian di revisi menjadi “The Population Explotion”, teori ini berisi:

a. Sudah terlalu banyak manusia di bumi ini.

b. Keadaan bahan makanan sangat terbatas.

c. Lingkungan rusak sebab populasi manusia meningkat.

Analisis ini dilengkapi oleh Meadow (1972), melalui buku “The Limit to Growth” ia menarik hubungan antara variabel lingkungan ( penduduk, produksi pertanian, produksi industri, sumber daya alam ) dan polusi. Tapi walaupun begitu , melapetaka tidak dapat dihindari , hanya manusia cuma menunggunya dan membatasi pertumbuhannya sambil mengelola alam dengan baik.

Meskipun demikian, muncul aliran yang menentang teori Malthus, yaitu aliran Marxist. Aliran ini tidak sependapat dengan Malthus (bila tidak dibatasi penduduk akan kekurangan makanan). Menurut Marxist,tekanan penduduk di suatu negara bukanlah tekanan penduduk terhadap bahan makanan, tetapi tekanan terhadap kesempatan kerja (misalnya di negara kapitalis). Marxistjuga berpendapat bahwa semakin banyak jumlah manusia semakin tinggi produk yang dihasilkan, jadi dengan demikian tidak perlu diadakan pembatasan penduduk.

Berikut negara-negara yang mendukung teori Malthus umumnya adalah negara berekonomi kapitalis seperti USA, Inggris, Prancis, Australia, Canada, dan lain-lain. Sedangkan negara-negara yang mendukung teori Marxist umumnya adalah negara-negara berekonomi Sosialis, seperti Eropa Timur, RRC, Korea Utara, Rusia dan Vietnam.

Pertumbuhan penduduk di belahan dunia sebelah barat tidak dapat dijelaskan hanya oleh teori Malthus saja. Selama dan setelah revolusi industri, banyak negara barat mengalami fenomena pertumbuhan yang terus berlangsung. Oleh karena itu perlu adanya teori baru yang dapat menjelaskan pertumbuhan yang eksplosif sifatnya dan juga pertumbuhan yang terhenti-henti sifatnya.

Observasi ini digarap secara sistematis oleh para ahli demografi berkebangsaan Amerika, Warren Thompson pada tahun 1929 dan diberi nama hipotesis transisi demografi.[7] Thompson dan kawan-kawannya terus menghaluskan hipotesisnya secara sistematis dan sekarang dikenal dengan nama “theory of the demografic transition” atau teori transisi demografi. Teori ini menggambarkan empat proporsi yang saling berhubungan yang dinyatakan menurut tahap-tahap sesuai dengan pertumbuhan dan berubahnya keadaan penduduk.

Tahap 1: Jika Angka kematian tinggi sebanding dengan angka kelahiran, menghasilkan angka pertumbuhan nol (zero)

Tahap 2: Jika Angka kematian menurun tidak disertai dengan penurunan angka kelahiran, maka akan menghasilkan angka pertumbuhan yang positif dan meningkat terus.

Tahap 3:  Jika Angka kematian terus menerus dan disertai dengan menurunnya angka kelahiran, maka akan menghasilkan pertumbuhan yang positif akan tetapi menurun.

Tahap 4: Jika Angka kematian dan angka kelahiran juga rendah, maka hasilnya adalah pertumbuhan yang semakin berkurang yang pada akhir akan mencapai nol (zero).

2.4 Perpindahan Penduduk (Migrasi)

Migrasi diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah  ke daerah lain.Perpindahan penduduk (migrasi) ini sah terjadi sejak zaman dahulu. Ada yang dilakukan perseorangan, keluarga bahkan berkelompok-kelompok. Dalam sejarah dapat diketahui bahwa terjadi perpindahan-perpindahan secara besar-besaran dan biasanya dibarengi dengan peperangan-peperangan yang besar antara bangsa pendatang dan bangsa-bangsa di daerah yang didatangi.

Migrasi dapat dibedakan menjadi beberapa macam, yaitu [8]:

1. Migrasi internasional (internal migration)

Migrasi internasional adalah perpindahan penduduk dari satu negara ke negara lain. Yang termasuk migrasi internasional adalah :

a) Imigrasi

Imigrasi yaitu masuknya penduduk kedalam suatu negara.

b) Emigran

Emigran yaitu perpindahan penduduk dari suatu negara ke negara lain.

c) Remigran

Remigran yaitu kembalinya penduduk ke negera asalnya.

2. Migrasi nasional (internal migration)

Migrasi nasional adalah perpindahan penduduk dari satu daerah ke daerah lain dalam suatu negara. Yang termasuk migrasi nasional adalah  :

a) In migration

In migration yaitu migrasi masuk dari suatu daerah ke daerah lain, masuk ke daerah tertentu.

b)  Out migration

Out migration yaitu migrasi keluar, di mana seseorang keluar dari daerah asal ke daerah lain.

c) Return migration (migrasi pulang)

Return migration yaitu seseorang yang pulang ke daerah asal setelah bebebrapa tahun pergi dari daerah asal.

d) Urbanisasi

Urbanisasi adalah perpindahan penduduk dari desa ke kota.

e) Transmigrasi

Transmigrasi adalah perpindahan penduduk antar pulau dalam suatu negara.

2.5 Faktor Pendorong Dan Penarik Perpindahan Penduduk

Migrasi disebabkan oleh faktor pendorong (push factor) suatu wilayah dan faktor penarik (pull factor) wilayah lainnya. Faktor pendorong suatu wilayah menyebabkan orang pindah ke tempat lain, misalnya karena di daerah itu tidak tersedia sumber daya yang memadai untuk memberikan jaminan kehidupan bagi penduduknya. Perpindahan penduduk ini juga terkait dengan persoalan kemiskinan dan pengangguran yang terjadi di suatu wilayah. Sedangkan faktor penarik suatu wilayah adalah jika wilayah tersebut mampu atau dianggap mampu menyediakan fasilitas dan sumber-sumber penghidupan bagi penduduk, baik penduduk di wilayah itu sendiri maupun penduduk di sekitarnya dan daerah-daerah lain. Penduduk wilayah sekitarnya dan daerah-daerah lain yang merasa tertarik dengan daerah tersebut kemudian berpindah dalam rangka meningkatkan taraf hidup. Menurut data statistik Indonesia, faktor-faktor pendorong (push factor) antara lain adalah[9]:

Ø Makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan seperti menurunnya daya dukung lingkungan, menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu yang bahan bakunya makin susah diperoleh seperti hasil tambang, kayu, atau bahan dari pertanian.

Ø Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal (misalnya tanah untuk pertanian di wilayah perdesaan yang makin menyempit).

Ø Adanya tekanan-tekanan seperti politik, agama, dan suku, sehingga mengganggu hak asasi penduduk di daerah asal.

Ø Alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan.

Ø Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, tsunami, musim kemarau panjang atau adanya wabah penyakit

Sedangkan faktor penariknya antara lain:

Ø Adanya harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup.

Ø Adanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Ø Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, misalnya iklim, perumahan, sekolah dan fasilitas-fasilitas publik lainnya.

Ø Adanya aktivitas-aktivitas di kota besar, tempat-tempat hiburan, pusat kebudayaan sebagai daya tarik bagi orang-orang di daerah lain untuk bermukim di kota besar.

BAB III

PENUTUP

3.1 Kesimpulan

Faktor-faktor yang mempengaruhi pertambahan penduduk  ada tiga yaitu fertilitas (kelahiran), mortalitas (kematian) dan migrasi (perpindahan). Dalam kependudukan menimbulkan berbagai masalah antara lain :

1. Masalah kekurangan penduduk  (under population)

2. Masalah kelebihan penduduk (over population)

3. Masalah pertambahan penduduk yang cepat

4. Masalah urbanisasi

5. Penyebaran penduduk yang tidak merata

6. Masalah kependudukan  di negara berkembang

7. Masalah kependudukan di negara maju

Ada beberapa teori kependudukan antara lain

  1. Menurut Thomas Malthus dalam “Essay On The Principle of Population”  , Paul Ehrlich dalam “The Population Bomb” dan  Meadow  dalam “The Limit to Growth” yang secara garis besar yang diungkapkan mereka sama yaitu pertambahan penduduk akan menimbulkan permasalahan dan perlu adanya pembatasan penduduk.
  2. Menurut Marxist,tekanan penduduk di suatu negara bukanlah tekanan penduduk terhadap bahan makanan, tetapi tekanan terhadap kesempatan kerja. Marxistjuga berpendapat bahwa semakin banyak jumlah manusia semakin tinggi produk yang dihasilkan, jadi dengan demikian tidak perlu diadakan pembatasan penduduk.
  3. Warren Thompson dalam “theory of the demografic transition” atau teori transisi demografi. Teori ini menggambarkan empat proporsi yang saling berhubungan yang dinyatakan menurut tahap-tahap sesuai dengan pertumbuhan dan berubahnya keadaan penduduk.

Migrasi diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah  ke daerah lain.Migrasi memiliki faktor pendorong dan faktor penarik.Faktor-faktor pendorong (push factor) antara lain adalah:

Ø Makin berkurangnya sumber-sumber kehidupan seperti menurunnya daya dukung lingkungan, menurunnya permintaan atas barang-barang tertentu yang bahan bakunya makin susah diperoleh seperti hasil tambang, kayu, atau bahan dari pertanian.

Ø Menyempitnya lapangan pekerjaan di tempat asal (misalnya tanah untuk pertanian di wilayah perdesaan yang makin menyempit).

Ø Adanya tekanan-tekanan seperti politik, agama, dan suku, sehingga mengganggu hak asasi penduduk di daerah asal.

Ø Alasan pendidikan, pekerjaan atau perkawinan.

Ø Bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, tsunami, musim kemarau panjang atau adanya wabah penyakit

Sedangkan faktor penariknya antara lain:

Ø Adanya harapan akan memperoleh kesempatan untuk memperbaiki taraf hidup.

Ø Adanya kesempatan untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik.

Ø Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yang menyenangkan, misalnya iklim, perumahan, sekolah dan fasilitas-fasilitas publik lainnya.

Ø Adanya aktivitas-aktivitas di kota besar, tempat-tempat hiburan, pusat kebudayaan sebagai daya tarik bagi orang-orang di daerah lain untuk bermukim di kota besar.

Cara mengatasi masalah kependudukan antara lain :

1. Meratakan penyebaran penduduk

Program ini bertujuan untuk mengurangi jumlah penduduk di daerah-daerah yang sudah terlalu padat, untuk membuka, membangun serta menggiatkan kehidupan ekonomi di daerah-daerah yang relatif masih jarang penduduknya.

2. Perbaikan dibidang pertanian

Bertujuan untuk mencuckupi kebutuhan akan pangan.

3. Industrialisasi

Dengan industrualisasi dimaksudkan untuk menciptakan serta memperluas kesempatan kerja.

4. Pengaturan dan pembatasan kelahiran


[1] Iskandar,N.1978.Masalah Demograsi dan Human Resources dalam Proses Pembangunan. Lembaga Demograsi Fe-UI:Jakarta,hal.13

[2] Rusli,Said. 1995.Pengantar Ilmu Kependudukan. Jakarta: LP3ES,hal 44

[3] Haryati,Sri.1979.”Kuliah Fertilitas, Studi dan Latihan Demograsi”. Jakarta :Lembaga Demografi FE UI

[4]Saidihardjo.1974.Dasar Dasar Kependudukan.Bursa Buku Sasana Triguna:Yogyakarta,hal 88-95

[5] Saidihardjo.1974.Dasar Dasar Kependudukan. Yogyakarta :Bursa Buku Sasana Triguna,hal 103-105

w

[6] Rusli, Said. 1995. Pengantar Ilmu Kependudukan. Jakarta:LP3ES. hlm. 4

[7] Ibid, hlm. 5

[8] Bahan Pendidikan Kependudukan. 1981. Jakarta:Direktorat Pembinaan PTAIN.,hlm. 54-55

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s